Bungarampai ini berisi tulisan-tulisan, baik yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku, mau pun yang belum atau tidak dibukukan.

23 Oktober 2009

CATATAN FILSAFAT

Suar Suroso:

160 TAHUN TULISAN MARX:
TESIS-TESIS TENTANG FEURBACH. (1)

Sebelas Tesis.

Tahun 1845, tiga tahun sebelum diumumkannya Manifes Partai Komunis, Marx menulis 11 Tesis Tentang Feurbach. Tulisan ini mempunyai arti historis dalam perkembangan filsafat materialisme. Dengan tesis-tesis ini, Marx mengkritik dan mengembangkan materialisme Feurbach. Justru dewasa ini, menguasai dan menggunakan materialisme, yaitu cara berfikir yang ilmiah, adalah cara untuk mengenal dan memahami kenyataan, membedakan yang benar dan yang salah, melawan kepalsuan, melawan pembodohan, melawan jahiliah, melawan ke-edanan..

Dengan mengkritik Feurbach; Marx merobah materialisme yang pasif, yang kontemplatif, yang bersifat renungan, yang hanya untuk tafakur, menjadi materialisme militan, menjadi alat berfikir yang aktif. Menjadikannya senjata ampuh perjuangan klas, yaitu materialisme dialektis. Ini tak hanya punya arti teoretis, tapi bahkan punya arti praktis, yaitu membimbing fikiran manusia untuk bertindak maju. Dalam tesis-tesisnya ini, Marx mengkritik Feurbach dengan menyatakan, bahwa “kekurangan utama materialisme yang ada sampai sekarang – termasuk materialisme Feurbach – adalah bahwa benda, kenyataan, kesan panca-indera difahami hanya dalam bentuk objek atau pandangan, hasil renungan, tetapi tidak sebagai aktivitas alat perasa panca-indera manusia, yaitu praktek....”. Dengan mengangkat tinggi arti praktek, dalam tesis ini Marx menyatakan bahwa Feurbach “tidak mencengkam arti penting aktivitas yang ‘revolusioner’, aktivitas yang ‘praktis-kritis’ ”. Dalam tesis-tesis ini, Marx juga menulis, bahwa “masalah apakah kebenaran objektif terdapat pada fikiran manusia adalah bukan satu masalah teori, tetapi satu masalah praktek. Dalam praktek lah orang harus membuktikan kebenaran fikirannya, yaitu bahwa fikirannya adalah kenyataan dan kekuatan, adalah bersifat duniawi”.

Disamping itu Marx menulis, bahwa “terjadinya secara bersamaan perobahan lingkungan dan perobahan aktivitas manusia hanyalah dapat dipahami secara rasional sebagai praktek revolusioner.” Seterusnya Marx menulis, bahwa “Feurbach bertolak dari kenyataan swa-alienasi keagamaan, yaitu dari terbagi-duanya dunia menjadi dunia keagamaan, dunia khayal dan dunia nyata. Dia berkarya tentang meleburnya dunia keagamaan kedalam dasarnya yang sekular. Dia tidak mencatat kenyataan, bahwa sesudah karyanya selesai, masalah yang utama masih harus dikerjakan. Yaitu kenyataan bahwa dasar sekular memisahkan dirinya dari dirinya sendiri dan membawa dirinya kedalam awan sebagai kerajaan yang bebas, hanya dapat dijelaskan dengan swa-alienasi dan swa-berkontradiksi dari dasar sekular ini. Yang terakhir ini harus difahami dalam kontradiksinya dan kemudian direvolusionerkan dalam praktek dengan pelenyapan kontradiksi. Jadi misalnya, begitu keluarga duniawi ditemukan sebagai rahasia dari seluruh keluarga suci, maka keluarga duniawi itu harus dikritik dalam teori dan direvolusionerkan dalam praktek.” Lagi-lagi dengan mengangkat arti penting praktek, selanjutnya, Marx menulis, bahwa “Tidak puas dengan pemikiran abstrak , Feurbach berpaling pada renungan yang dapat dirasakan; tetapi dia tidak menganggap sesuatunya yang dapat dirasakan itu sebagai hal praktis, sebagai aktivitas perasaan manusia”. Lebih lanjut Marx menulis, bahwa “Pada akhirnya, Feurbach tidak melihat bahwa ‘perasaan keagamaan’ itu sendiri adalah produk kemasyarakatan dan bahwa perseorangan yang abstrak, yang dia analisa terdapat pada kenyataan bentuk masyarakat yang khusus”. Lagi-lagi dengan mengangkat arti penting praktek, Marx menulis, bahwa “Penghidupan kemasyarakatan pada pokoknya adalah praktis. Semua keajaiban yang menyesatkan teori menjadi mistisisme mendapatkan pemecahan yang rasional dalam praktek kemanusiaan dan dalam praktek yang dapat difahami”. Seterusnya Marx menulis bahwa “Puncak yang tercapai oleh materialisme kontemplatif (materialisme renungan, materialisme tafakur), yaitu materialisme yang tidak memahami bahwa perasaan adalah aktivitas praktek, adalah renungan seorang individu dalam ‘masyarakat madani’ ”

Selanjutnya ditulis Marx bahwa “Titik tolak materialisme kuno adalah masyarakat ‘madani’, titik tolak materrialisme baru adalah masyarakat manusia yang baru, atau kemanusiaan yang dimasyarakatkan”. Paling akhir, dalam tesis ke-sebelas, Marx menulis bahwa “Para filosof hanyalah menginterpretasi dunia dengan berbagai caranya, akan tetapi masalahnya adalah merobah dunia itu”. Tesis terakhir ini mempunyai arti menjungkir-balikkan tugas filsafat. Menjungkir-balikkan materialisme kontemplatif, materialisme renungan, materialisme tafakur menjadi materialisme militan untuk merobah dunia.
Merobah dunia ! Tiga tahun kemudian, tahun 1848, Marx dan Engels memaparkan gagasan merobah dunia itu dalam Manifes Partai Komunis. Dunia ketika itu sedang dikuasai oleh feodalisme dan burjuasi pemilik kapital yang baru berkembang. Dunia dengan penghisapan feodal yang sudah mencapai puncaknya, dan penghisapan kapital yang sedang berkembang pesat, akan dirobah menjadi dunia tanpa penghisapan oleh manusia atas manusia. Sungguh satu gagasan raksasa. Ini berarti dilenyapkannya penghisapan feodal dan penghisapan kapital. Disinilah arti historis Tesis-Tesis Tentang Feurbach yang ditulis Marx 160 tahun yang lalu. Maka selanjutnya, materialisme pun berkembang menjadi materialisme historis, yaitu pentrapan materialisme dialektis dalam ilmu kemasyarakatan. Inilah alat berfikir, senjata perjuangan bagi manusia untuk merobah dunia.

Tentang Feurbach.

Ludwig Feurbach (1804-1872) berjasa mengembangkan tradisi revolusioner materialisme abad ke-XVII dan abad ke-XVIII. Yang dimaksudkan dengan filsafat antropologis oleh Feurbach adalah filsafat yang mengutamakan manusia. Prinsip antropologis dinyatakan oleh Feurbach dengan mengutamakan kesatuan alam kemanusiaan. Menurut Feurbach manusia adalah produk alam dan bahagian dari alam. Alam, materi adalah satu-satunya substansi, dan adalah substansi sejati, yang berada diluar manusia, dan yang menciptakan manusia. Feurbach berpendapat, bahwa filsafat baru harus merobah manusia serta alam sebagai basis manusia, menjadi sasaran satu-satunya yang universal dan paling tinggi dalam filsafat. Karena itu, antropologi, termasuk fisiologi, baginya menjadi ilmu yang universal. Feurbach memandang masalah ruang dan waktu secara materialis. Ruang dan waktu adalah syarat-syarat dasar, adalah bentuk-bentuk dan perwujudan substansi. Materi bukan hanya ada, tetapi juga bergerak dan berkembang. Tanpa ruang dan waktu, maka gerak dan perkembangan adalah tidak mungkin. Tanpa ruang dan waktu tak mungkin ada materi.

Disamping itu, dinyatakannya bahwa alam itu kongkrit, bersifat material, dapat diraba dan dirasa. Materi tak dapat dibasmi, selalu ada, akan tetap ada, yaitu adalah abadi, tanpa awal dan tanpa akhir, adalah tak berhingga. Dengan mengikuti Spinoza, Feurbach menyatakan, bahwa alam adalah sebab-musabab itu sendiri. Materi adalah primer, ide adalah sekunder. Pandangan ini adalah bertolak belakang dengan pandangan Hegel yang menjadikan ide absolut sebagai yang utama, sebagai sumber segala-galanya. Dengan demikian, mengenai masalah terpokok dalam filsafat, yaitu masalah hubungan antara ide dan materi, dipecahkan oleh Feurbach secara materialis, ..... dengan mengutamakan materi.

Menurut Feurbach, alam adalah banyak segi. Manusia mengenalnya liwat syaraf perasa, hingga mengenal air, api, listrik, sinar, magnetisme, tumbuh-tumbuhan, dunia dan seterusnya. Itulah sebahagian dari substansi dengan berbagai kwalitas. Substansi tanpa kwalitas adalah omong kosong. Kwalitas tak terpisahkan dari substansi sesuatunya. Alam, materi adalah satu-satunya substansi dan adalah hakekat substansi yang terdapat di luar manusia, dan yang melahirkan manusia. Satu-satunya dasar manusia adalah jasmani. Ambillah dari manusia jasmaninya, akan terambil jiwanya, terambil semangatnya. Jasmani adalah bahagian dari dunia objektif dan adanya jiwa adalah tergantung pada jasmani. Ini adalah pandangan monisme antropologis, yang berlawanan dengan pandangan dualisme. Pandangan dualisme mensetarakan jasmani dan jiwa – jasmani adalah dari alam material, dan jiwa adalah dari alam spiritual. Pandangan monisme antropologis dari Feurbach ini adalah pandangan materialis.

Berakarnya pandangan Feurbach pada manusia ditunjukkan oleh tulisannya: “Pandang dan renungkanlah alam, pandang dan renungkanlah manusia ! Di sini, di depan matamu terdapat keajaiban filsafat !” Lebih lanjut dinyatakannya, bahwa dasar materialismenya adalah manusia. Kebenaran bukanlah materialisme atau idealisme, tetapi adalah antropologi”. Karena itu, materialisme Feurbach disebut materialisme antropologis, materialisme manusiawi.

Feurbach membawa maju ajaran materialis dalam teori pengenalan, dalam epistemologi. Feurbach menyatakan, bahwa “perasaan saya adalah subjektif, tetapi dasarnya, sebab-musababnya adalah objektif”. Sejarah pengenalan menunjukkan pada kaum materialis Jerman, bahwa batas-batas pengenalan manusia selalu bertambah luas; bahwa dalam perkembangannya, akal manusia memungkinkan kita untuk menemukan rahasia-rahasia alam. Kaum agnostisis berpendapat, bahwa alam terbentuk sedemikian rupa hingga tak mungkin manusia mengenal sesungguhnya alam itu. Berlawanan dengan kaum agnostisis, Feurbach menyatakan, bahwa “apa yang belum kita ketahui sekarang, akan diketahui oleh anak-cucu kita di kemudian hari”. Dengan demikian, Feurbach secara tajam menentang agnostisisme Kant.

Feurbach menjadikan perasaan sebagai titik-tolak pengenalan. Menurut dia, “adalah sepenuhnya tepat, bahwa empirisisme memandang sumber-sumber ide-ide kita pada perasaan”. “Saya berfikir dengan bantuan perasaan, terutama dengan bantuan pandangan, -- saya mendasarkan dalil, kesimpulan saya pada sesuatunya yang material, yang kita tangkap (serap) liwat alat perasa bahagian luar. Bukannya benda berasal dari fikiran, tetapi fikiran berasal dari benda. Dan benda pun adalah tak lain dan tak bukan apa yang terdapat di luar kepala saya”. Maka materi, alam bukan saja adalah dasar dari jiwa, tetapi bahkan dasar prinsip dari semua pengetahuan dari filsafat. Benda, materi adalah tak lain dan tak bukan sesuatu yang secara nyata ada di luar kita, sedangkan fikiran mengenai benda itu adalah pencerminan (bayangannya) dalam kepala manusia.

Feurbach membuktikan, bahwa jika tidak ada materi yang terdapat secara objektif di luar kita, maka syaraf perasa kita tidak akan tersentuh. Oleh karena itu, materi, alam, -- bukan hanya adalah basis dari jiwa, tapi juga dasar permulaan dari semua pengenalan dan filsafat. Menurut Feurbach, perasaan bukanlah memisahkan manusia dari dunia luar, tetapi menghubungkannya, karena perasaan adalah hasil pengaruh benda-benda luar terhadap alat perasa manusia. Pengenalan ilmiah dimulai dengan pengamatan dan cita-rasa. Dia menyatakan, bahwa “tak ada perasaan tanpa kepala, tanpa akal dan pemikiran” Manusia harus bertolak dari “perasaan sebagai sesuatunya yang paling sederhana, yang jelas-jemelas dan tak disangsikan lagi”, kemudian memasuki masalah “objek-objek yang rumit dan jauh dari mata”.

Menurut Feurbach, peranan akal adalah menghubungkan pengenalan cita-rasa dari pengalaman yang sepotong-sepotong dengan bahagian lain dari kenyataan di luar pengalaman. Sebagaimana halnya hubungan antara kata-kata menjadi fikiran, demikian pula data-data yang ditangkap perasaan hanya dapat difahami jika ia dihubungkan, disusun dengan bantuan akal. “Dengan perasaan, kita membaca bukunya alam, tetapi memahaminya bukanlah dengan perasaan”. Dengan bantuan akal, kita menghubungkan sebab dan akibat, sebab-sebab dan tindak tanduk antara gejala-gejala, hanyalah karena mereka “menurut kenyataannya, secara materiil, secara kenyataan terdapat tepat dalam hubungan sedemikian antara sesamanya”.
Feurbach juga menyatakan, bahwa “hanya fikiran yang riil, yang objektif yang memastikan dan membikin tepat renungan perasaan, hanyalah dalam keadaan yang demikian, pemikiran adalah pemikiran objektif dan kebenaran”.
Feurbach membuang dualisme antara renungan cita-rasa dan pertimbangan akal, yang merupakan ciri dari epistemologi Kant. Menurut Feurbach, pertimbangan akal, bukanlah sumber yang berdiri sendiri dari pengenalan. Semua prinsip dan kategori-kategorinya bukanlah ditimbanya dari dirinya sendiri tetapi dari perasaan berdasarkan pengalaman. Kant mencari ukuran kebenaran pada pemikiran yang murni. Sebaliknya, Feurbach menemukan kebenaran dalam kehidupan, dalam kenyataan, dalam praktek. “Sesuatunya yang disangsikan yang tak dapat selesai dan dikerjakan oleh teori, akan diselesaikan oleh praktek”.

Tetapi Feurbach tidak sampai memahami praktek menurut pemahaman materialis tentang praktek kemasyarakatan manusia. Hubungan antara sesama manusia hanya difahami Feurbach sebagai hubungan dalam “gens”, yaitu hubungan kemasyarakatan yang bersumber pada hubungan keluarga, hubungan fisiologis. Gens, puak, suku adalah organisasi kemasyarakatan dasar dalam susunan masyarakat komune-primitif, organisasi yang merupakan kesatuan dari pada keluarga-keluarga seketurunan. Asal mulanya diorganisasi secara keibuan, -- secara matriarchaat, kemudian berobah menjadi patriarchaat dalam proses berkembangnya masyarakat komune-primitif. Gens memiliki seorang kepala, mendiami suatu daerah tertentu dan mempunyai nama tertentu.

Feurbach memahami praktek manusia sebagai “makan dan minum”, bukanlah praktek berproduksi, bukanlah tindakan-tindakan revolusioner. Dalam pemahaman Feurbach tentang praktek terkandung antropologisme dan naturalisme. Ukuran kebenaran dia lihat dalam “gens”. Dia menyatakan, bahwa “jika saya berfikir sesuai dengan patokan-patokan gens, berarti saya adalah berfikir sebagaimana manusia umumnya. .... Kebenaran adalah apa yang sesuai dengan hakekat gens, palsu adalah apa yang bertentangan dengan itu. Hukum lain dari kebenaran tidak ada” Demikianlah, Feurbach tidak bisa melangkah lebih jauh dari pemahamannya yang abstrak dan pasif tentang praktek kemasyarakatan manusia.

Dalam seluruh karyanya, pada pokoknya Feurbach menempatkan masalah agama dalam pusat perhatiannya. Dia menulis, bahwa dalam semua karyanya, dia tidak pernah “melepaskan masalah agama dan teologi dari pandangan”, bahkan menjadikan “agama dan teologi sebagai tema pokok fikiran serta kehidupannya.” Feurbach berusaha mengangkat obor akal, supaya manusia akhirnya dapat merobah permainan kekuatan-kekuatan yang fantastis, yang dipergunakan penguasa agama untuk menindas manusia. Fikirannya selalu terlibat dalam hal, supaya merobah manusia dari serba percaya menjadi manusia yang berfikir, dari serba hidup sembahyang menjadi kaum pekerja.

Menurut Feurbach, alam, kenyataan hanyalah memberikan materi, kebendaan bagi adanya ide tentang Tuhan; tetapi bentuk yang diberikan oleh benda itu menjadi hakekat Tuhan, adalah dilahirkan oleh fantasi, oleh daya pembayangan. Oleh karena itu, fantasi, daya pembayangan adalah “sebab-sebab teoretis atau adalah sumber dari agama”. “Manusia adalah permulaan, adalah bahagian tengah dan adalah akhir dari agama”.

Feurbach mencatat bahwa peranan alam dalam hidup manusia adalah sangat besar. Alam adalah sebab-musabab, adalah dasar, sumber eksistensi manusia. Alam mengharuskan lahir dan hidupnya manusia. Manusia – bahagian dari alam, dan hanya bisa terdapat dalam alam, adalah berkat alam. Alam adalah ibu kandung manusia. Feurbach menyatakan, bahwa arti alam yang demikian bagi manusia adalah menjadi sebab, hingga alam menjadi objek pertama dari agama, menjadi Tuhan pertama dari manusia. Agama tertua dari manusia – adalah agama yang memuja alam, agama “alamiah”. Bagi manusia-manusia purba, hanyalah alam yang menjadi subjek pemujaan keagamaan. Agama zaman purbakala menunjukkan manusia dan satunya manusia dengan alam, menunjukkan ketergantungan manusia pada alam. Perasaan ketergantungan adalah dasar dari agama. Manusia semenjak kelahirannya dalam sejarah, selalu dalam syarat-syarat tertentu berada dalam ketergantungan bukan dari alam secara umum, tetapi dari alam tertentu, dari alam negerinya, dan tempat kelahirannya. Manusia-manusia purba, oleh karena itu menjadikan alam kongkrit yang mengitarinya sebagai objek agamanya. Manusia-manusia purba memuja dalam agama mereka syarat-syarat alam dan gejala-gejala alam dari mana kehidupan mereka tergantung. Maka oleh karena itu, Feurbach menyatakan, bahwa menurut kenyataan sejarah, manusia-manusia purba memuja sungai, gunung dan laut tanah-airnya. Orang Mesir purbakala berpendapat, bahwa asal-usul semua kehidupan, termasuk manusia adalah sungai Nil. Rakyat Yunani purba percaya, bahwa semua sumber sungai, danau, laut terdapat di samudera raya. Rakyat Persia purba menganggap, bahwa semua gunung berasal dari gunung Alborda. Manusia Meksiko purba memuja Tuhan dari garam. Demikianlah, bagi manusia-manusia purba, Tuhan mereka berasal dari alam sekitar atau iklim yang mengitarinya. Feurbach menyatakan, bahwa manusia yang masih kurang pengalaman dan kurang pendidikan bahkan menganggap negerinya itulah dunia, atau pusat bumi.

Feurbach menyatakan, bahwa bagi kaum budak, tanpa tuan budak, dalam masyarakat tidak ada tata tertib, dan tanpa kaisar tidak ada ketenteraman dalam negeri. Oleh karena itu mereka tunduk dan menyembah tuan-budak serta kaisar. Feurbach menarik kesimpulan, bahwa bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi manusia yang hidup dalam masyarakat menciptakan Tuhannya sendiri.

Pandangan-pandangan Feurbach mempunyai arti besar dalam hal memasukkan pengertian antropologis manusia dalam ajaran tentang moral. Feurbach mencatat, bahwa semua usaha manusia adalah menuju kebahagiaan. Bahagia atau sengsara, sukacita atau duka nestapa diketahui liwat perasaan. Bagi Feurbach, perasaan adalah syarat pertama bagi moral. Di mana tidak ada perasaan, di sana tidak ada perbedaan bahagia dan sengsara, antara kebaikan dan kejelekan, antara suka dan duka, di sana tidak ada moral. Ajaran tentang moral merupakan puncak ajaran Feurbach tentang masyarakat. Dalam hal inilah terletak keterbatasan filsafat Feurbach. Prinsip dasar moral dari Feurbach adalah kecenderungan hati manusia terhadap sesamanya, yang dimiliki sebagai sifat alamiah dari manusia, yaitu sifat menginginkan kebahagiaan. Menurut Feurbach, supaya manusia jadi bahagia, mereka harus saling mencintai. Kata ‘cinta’ bagi Feurbach adalah azimat sakti, bahan ramuan mujarab mengobati semua penyakit. Feurbach mengajarkan cinta yang menyeluruh dalam masyarakat yang terbagi dalam berbagai klas yang antagonistik. Cinta sesama manusia adalah puncak ajaran moral Feurbach. Di samping itu, dalam berbagai kesempatan secara tepat Feurbach menulis, bahwa “orang di dalam istana berfikiran lain daripada yang di dalam gubuk”. Tetapi dia salah menilai orang yang melarat dengan menyatakan lebih lanjut, bahwa “jika karena kelaparan, karena kesengsaraan, orang tidak mempunyai isi di dalam tubuhnya, akan begitu juga dia tidak mempunyai isi untuk moral di dalam kepalanya, di dalam jiwanya maupun hatinya”. Moral Feurbach adalah moral burjuasi, yang mengajarkan perdamaian klas, yang menutup-nutupi kontradiksi kepentingan-kepentingan klas, yang memadamkan dan menegasi perjuangan klas. Karena itu, materialisme Feurbach adalah materialisme yang tidak berjuang, materialisme yang pasif. Inilah yang disebut materialisme kontemplatif .

Demikianlah materialisme Feurbach, materialisme antropologis dan kontemplatif, yang mengabaikan praktek kemasyarakatan manusia, yang menentang agama dan berpaling pada ‘cinta’ sesama manusia dan lari dari perjuangan klas, yang mengkritik idealisme Hegel, menentang agnostisisme Kant serta yang tidak memahami arti penting perjuangan politik. Walaupun pandangannya materialis, Feurbach tidak menggunakan metodologi dialektika, tidak menggunakan hukum pokok dialektika – kesatuan dan perjuangan dari segi-segi yang berlawanan. Materialisme Feurbach adalah materialisme metafisis. Keterbatasan materialisme Feurbach tidaklah mengurangi akan arti historisnya.

Materialisme Feurbach memberikan pengaruh yang mendalam atas Marx dan Engels pada masa pembentukan pandangan-pandangan filsafatnya. Marx dan Engels mengambil dari materialisme Feurbach hanya “inti pokoknya”, mengembangkannya lebih lanjut menjadi filsafat ilmiah materialisme dialektis dan membuang lapisannya yang bersifat idealis dan metafisis.


*********

(Bersambung)

CATATAN FILSAFAT

Suar Suroso:


160 TAHUN TULISAN MARX:
TESIS-TESIS TENTANG FEURBACH. (2)

Perkembangan Dan Kemenangan Materialisme.

Dengan sebelas Tesis Marx tentang Feurbach, materialisme jadi berkembang. Lebih setengah abad sesudah Marx menulis tesis itu, tahun 1908, Lenin menulis karya filsafat: Materialisme Dan Empiriokritisisme. Karya Lenin ini lebih mengembangkan lagi materialisme. Lebih diperdalam pengertian tentang kenyataan dan fikiran, tentang hubungan materi dan fikiran, tentang perasaan, tentang ruang dan waktu, tentang kebenaran relatif dan kebenaran absolut, tentang kausalitas. Dinyatakan, bahwa “materi adalah kategori filsafat untuk menamakan kenyataan objektif.”. Lenin menulis, bahwa “pemecahan masalah filsafat secara materialis hanyalah mungkin atas dasar titik tolak dialektis terhadap perasaan”. “Sifat perasaan yang dialektis adalah kesatuan subjektif dan objektif, hakekatnya ..... perasaan adalah gambaran (rupa, wajah) subjektif dari dunia objektif” Dalam karyanya ini, Lenin juga mengungkap masalah pemahaman tentang kebenaran. Materialisme dialektis mengakui adanya kebenaran absolut. “Pengakuan akan kebenaran objektif yang tidak tergantung pada manusia dan kemanusiaan, berarti mengakui kebenaran absolut” Tapi pengakuan akan kebenaran absolut terjadi (terwujud) tidaklah secara sekali gus, tidak segera lengkap menyeluruh, bukannya tidak bersyarat; tetapi setapak demi setapak, setingkat demi setingkat, berangsur-angsur, secara relatif, yaitu kebenaran absolut tampil dalam bentuk kebenaran relatif. Walaupun demikian, meskipun kebenaran itu relatif, tak terelakkan didalamnya ada unsur keabsolutan. Bagi materialisme dialektis tidak terdapat batas yang tak terseberangi antara kebenaran relatif dan kebenaran absolut. Lenin meneliti saling hubungan antara kebenaran relatif dengan kebenaran absolut. Lenin merumuskan salah satu hukum dasar ajaran tentang kebenaran: kebenaran absolut terbentuk dari jumlah himpunan kebenaran-kebenaran relatif; setiap tingkat dalam perkembangan pengetahuan bertambah butir baru pada jumlah kebenaran absolut itu. Lenin memaparkan, bahwa materialisme sebelum Marx adalah metafisis atau relativisme. Materialisme metafisis tidak memahami saling hubungan antara keabsolutan dan kerelatifan. Relativisme mempertentangkan kebenaran relatif dengan kebenaran absolut. Lenin mengungkap masalah gerak yang tak terpisahkan dari materi. Materi secara keharusan terdapat dalam semua gerak. Gerak materi tak mungkin terdapat tanpa ruang dan waktu. Siapa yang mengakui eksistensi realitas objektif, maka tak bisa lain harus mengakui juga realitas objektif dari waktu dan ruang. Lenin mengungkap pemahaman filosofis hakekat ruang dan waktu, dan tafsiran filosofis tentang kausalitas (pertalian antara sebab dan akibat). Penyangkalan (penegasian) atas realitas objektif ruang dan waktu, tak bisa lain akan menghasilkan penyelewengan dari pendirian materialisme dalam masalah kausalitas. Demikian pula pemahaman yang tidak benar, yang subjektif tentang kausalitas akan menghasilkan kesimpulan yang tidak benar, yang idealistis mengenai masalah dasar filsafat. Materialisme Dan Empiriokritisisme karya Lenin ini memperkaya ajaran Marxis tentang peranan praktek dalam teori pengenalan (epistemologi). Dikemukakan masalah hubungan tak terpisahkannya teori pengenalan materialisme dialektis dengan praktek. Digaris-bawahinya bahwa praktek haruslah yang pertama dan merupakan titik-pandangan dasar dari teori pengenalan, bahwa kriteria praktek haruslah termasuk kedalam dasar teori pengenalan.

Lebih seperempat abad sesudah Lenin menulis Materialisme Dan Empiriokritisisme, tahun 1937, pemahaman tentang pentingnya arti praktek, arti mencari kebenaran dari kenyataan itu dijabarkan secara rinci oleh Mao Zedong dalam karya filsafatnya TENTANG PRAKTEK. Dengan populer Mao Zedong memaparkan tentang proses perkembangan pengetahuan manusia, mulai dari adanya kontak dengan hal-ihwal dunia luar, melakukan sintese dari bahan-bahan tanggapan pancaindera, sampai membentuk konsepsi. Mao Zedong menulis, “pengetahuan mulai dari pengalaman”. Diajukannya bahwa filsafat Marxis materialisme dialektis mempunyai dua ciri yang paling menonjol. Yang satu ialah watak klasnya – ia secara terang-terangan mengabdi kepada proletariat. Yang lainnya ialah sifat kepraktekannya – ia menekankan ketergantung teori pada praktek, menekankan bahwa dasar teori adalah praktek dan teori pada gilirannya mengabdi pada praktek. Untuk sepenuhnya mencerminkan sesuatu dalam keseluruhannya, untuk mencerminkan hakekatnya, mencerminkan hukum-hukum internya, adalah perlu melalui pemikiran, menyusun kembali dan mengolah bahan-bahan tanggapan pancaindera yang kaya itu dengan membuang ampasnya dan mengambil sarinya, menyisihkan yang palsu dan mempertahankan yang benar, bertolak dari segi yang satu ke segi yang lain dan dari bagian luar ke bagian dalam, guna membentuk suatu sistim konsepsi dan teori – adalah perlu membuat suatu lompatan dari pengetahuan persepsi ke pengetahuan rasional. Menggaris-bawahi tesis kesebelas Marx tentang Feurbach, Mao Zedong menulis, bahwa masalah yang terpenting tidak terletak pada pengertian akan hukum-hukum dunia objektif dan karena itu sanggup menerangkan dunia, melainkan terletak pada pentrapan pengetahuan tentang hukum-hukum objektif itu untuk secara aktif merubah dunia. Menurut Marxisme, teori adalah penting, dan pentingnya teori itu dinyatakan sepenuhnya dalam perkataan Lenin: “Tanpa teori revolusioner, tak mungkin ada gerakan revolusioner”. Dengan demikian, Mao Zedong kian mempertegas ajaran Marx, bahwa pengenalan atas dunia adalah untuk merobahnya. Inilah materialisme dialektis, cara berfikir, senjata perjuangan, yang diperlukan bagi manusia yang berjuang.

Sudah berlalu lebih satu setengah abad, semenjak Tesis-Tesis Tentang Feurbach ini ditulis Marx. Materialisme kian menunjukkan keunggulan dalam filsafat. Kebenaran filsafat materialisme telah mengalami ujian dalam sejarah. Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi, mulai dari penemuan-penemuan dalam astronomi, fisika, kimiah, biologi, ilmu kedokteran, penemuan dan penggunaan energi nuklir, penjelajahan ruang angkasa, ilmu dan tekhnologi informatika, ilmu genetika dan lain-lain telah mendemonstrasikan kemenangan-kemenangan materialisme atas agnostisisme dan idealisme. Berkat materialisme, manusia kian mengenal dan menguasai hukum-hukum alam. Kian bisa mengolah dan mengobah alam demi kepentingan umat manusia.

Selama satu setengah abad ini, masyarakat manusia di dunia juga telah mengalami perobahan drastis. Hampir seperempat abad sesudah Manifes Partai Komunis diumumkan, lahirlah Komune Paris. Inilah usaha mempraktekkan gagasan Manifes Partai Komunis dalam praktek. Komune Paris tahun 1871 gagal, karena kaum Komunar dibasmi pakai penindasan bersenjata oleh burjuasi Perancis. Hampir setengah abad kemudian, belajar dari kegagalan Komune Paris, pada tahun 1917, partai klas pekerja yang dibimbing oleh filsafat materialisme historis dibawah pimpinan Lenin, memelopori Revolusi Oktober Russia. Revolusi mencapai kemenangan dengan didirikannya negara sosialis pertama di dunia, yaitu Uni Republik-Republik Sovyet Sosialis – URSS --. Kekuasaan klas pekerja yang digagaskan dalam Manifes Partai Komunis untuk pertama kali terwujud. Musuh-musuh sosialisme tidak rela akan eksistensi negara sosialis, URSS. Perang dunia kedua yang dilancarkan persekutuan fasis Jerman, Itali dan Jepang dengan Pakta Anti-Komintern adalah bertujuan melenyapkan URSS, melenyapkan Bolsyewisme dan sosialisme. Perang berakhir dengan kekalahan fasisme. URSS tidak terbasmi. Malah tampil sebagai pemenang-perang bersama negara-negara Sekutu. Ini disusul dengan munculnya negara-negara sosialis baru di Jerman Timur, Bulgaria, Rumania, Albania, Polandia, Cekoslowakia. Juga di Tiongkok, Korea dan Vietnam. Semuanya ini terjadi dibawah bimbingan filsafat materialisme historis untuk mewujudkan sosialisme yang digagaskan dalam Manifes Partai Komunis. Inilah manifestasi kemenangan bersejarah dari Marxisme, kemenangan filsafat materialisme dialektis pada paro pertama abad ke-XX..

Perang Dunia Kedua usai dengan kekalahan fasisme. Sosialisme bukannya terbasmi, malah kian berkembang biak. Usaha burjuasi internasional untuk melenyapkan sosialisme tidaklah berhenti. Burjuasi berpendirian, bahwa eksistensi sosialisme berarti ancaman bagi kelangsungan hidup sistim kapitalisme. Karena itu, semenjak zaman Truman dan Churchill usaha membasmi sosialisme berlanjut dengan dilancarkannya the policy of containment, politik membendung komunisme sejagat dibawah komando Amerika Serikat. Inilah yang dinamakan PERANG DINGIN. PERANG DINGIN, usaha membasmi komunis dimana saja di muka bumi, melanda dunia mulai pertengahan abad ke-XX. Eksistensi negara-negara sosialis dan gerakan komunis dianggap ancaman bagi kelangsungan hidup kapitalisme, mengancam way of life Amerika. Karena itu pembasmian komunisme merupakan strategi global Amerika Serikat. Realisasi strategi global ini dilakukan dibawah komando National Security Council (NSC) – “Politbiro PERANG DINGIN”, yang diketuai Presiden, beranggotakan antara lain Menteri Pertahanan, Menteri Luarnegeri, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata, tokoh-tokoh politik pilihan. Tahun 1947 didirikanlah CIA yang bekerja secara terbuka dan rahasia, demi membasmi komunisme. Dilaksanakan Plan Marshall untuk membendung meluasnya pengaruh Uni Sovyet di Eropa. Dibangun pakta-pakta militer NATO, CENTO, SEATO, ANZUS mengepung negeri-negeri sosialis. Tahun 1947-1948 berlangsunglah penyingkiran dan pembendungan wakil-wakil komunis dalam pemerintahan Perancis dan Itali; terjadi pembasmian pimpinan utama Partai Komunis Indonesia dengan “Peristiwa Madiun 1948” ; disusul Perang Korea 1950-1953 demi membendung kemajuan komunisme di Asia Timur; dikobarkan Perang Vietnam 1954-1975 untuk membendung kemajuan komunisme di Asia Tenggara; berlangsung pembasmian Patrice Lumumba di Konggo; terjadi invasi bersenjata yang dikendalikan CIA di Playa Giron tahun 1961 untuk menggulingkan pemerintah Kuba yang dipimpin Fidel Castro; berlangsung pembantaian kaum komunis dan Sukarnois di Indonesia tahun 1965-1966 sampai berdirinya kekuasaan orba selama 32 tahun, dilakukan blokade terhadap Kuba hampir selama setengah abad, berlangsung berbagai usaha membunuh Fidel Castro dan menggulingkan pemerintahan Kuba yang revolusioner, ...... sampai-sampai penggulingan pemerintah dan pembunuhan Salvador Allende di Chili, dan berkobar penggalakan subversi untuk “perobahan secara damai” di semua negara sosialis. Demikianlah perwujudan PERANG DINGIN, realisasi the policy of containment yang dilancarkan Amerika Serikat untuk membasmi komunisme demi menguasai dunia. Dunia pun jadi penuh ketegangan dengan berlangsungnya perlombaan persenjataan besar-besaran.

Semenjak semula, Lenin mempunyai gagasan untuk memenangkan sosialisme liwat perlombaan damai dengan kapitalisme, yaitu menempuh jalan koeksistensi secara damai antara sosialisme dengan kapitalisme. Gagasan ini dihadang PERANG DINGIN yang menggelora. Pengeluaran besar-besaran dalam perlombaan persenjataan, telah mendatangkan beban besar di pundak URSS. Ini merupakan salah satu sebab utama terpukul dan terlantarnya pembangunan perekonomian Uni Sovyet di ujung abad ke-XX.
Pembasmian kaum komunis Indonesia 1965-1966 hanyalah merupakan satu mata-rantai, merupakan bagian kecil dari rencana global pembasmian komunisme sejagat. Pembantaian manusia ini lebih mengerikan dan lebih terkutuk dari Perang Korea maupun Perang Vietnam. Dalam perang Korea dan Perang Vietnam, Amerika Serikat mengerahkan pasukannya memerangi rakyat Korea dan rakyat Vietnam, hingga di Korea jatuh korban 57.120 tentara Amerika mati dan luka-luka,.di Vietnam jatuh korban 40.000 tentara Amerika mati dan hampir 4000 pesawat terbang musnah, dengan pengeluaran sampai 136 milyar dollar. Sedangkan genosida di Indonesia berlangsung dengan mengadu orang Indonesia membunuh orang Indonesia.

Komando pembasmian komunisme sejagat berada di tangan NSC Amerika Serikat – Politbiro PERANG DINGIN --. Untuk pelaksanaan keputusan-keputusannya, NSC mempunyai aparat-aparat yang canggih. Ada Korps Diplomatik AS yang tersebar di semua negeri di seluruh dunia. Ada CIA dan FBI. CIA mempunyai agen-agen di banyak negeri. Ada tiga Angkatan Bersenjata dengan Armada Ke-VII yang bisa merondai semua pelosok samudera di dunia. Ada sejumlah Akademi Militer Amerika yang bisa mendidik perwira-perwira terpilih dari banyak negeri. Hasil didikan Akademi-Akademi Militer ini, sadar atau tidak sadar, akan dapat jadi alat pelaksana the policy of containment. CIA menggunakan berbagai lembaga riset seperti RAND Corporation, Ford Foundation, Rockefeller Foundation, Carnegie Corporation, yang bisa mengucurkan dana buat merekrut sarjana-sarjana berbagai negeri untuk melakukan riset dan melakukan penulisan yang mengabdi pada realisasi the policy of containment, terdapat sejumlah universitas yang membangun lembaga-lembaga studi dan pusat penelitian seperti universitas Berkeley, Harvard, Princeton, Columbia, Chicago, Pennsylvania, MIT, John Hopkins, yang memberikan beasiswa pada mahasiswa untuk dididik dan melakukan riset. Untuk mengimbangi teori ekonomi komunisme, Walt W.Rostov salah seorang pakar dari MIT Center for International Studies menghasilkan karya terkenal STAGES OF ECONOMIC GROWTH – a Non-communist Manifesto --, yang memaparkan teori tentang lepas landas dalam ekonomi. Tak sedikit tokoh orba yang jadi pengikut Rostov, menguar-uarkan bahwa Indonesia akan berlepas landas pada tahun 2000. Disamping itu, dibangun dan digalakkan pemancar Radio Svoboda – Radio Free Europe --, Radio Free Asia untuk mensubversi negeri-negeri sosialis, dengan mengobarkan histeria anti-komunisme. Terhadap Indonesia, usaha subversi sudah digalakkan dengan CIA membantu PRRI-Permesta mendirikan negara tandingan melawan Republik Indonesia. Kegagalan dalam membantu PRRI – Permesta, tidaklah menyebabkan berhentinya usaha Amerika Serikat menggulingkan Bung Karno. Dikala Perang Vietnam sedang memuncak, NSC pun memutuskan untuk menyingkirkan Sukarno. Dalam bulan Maret 1965, Komite 303 dari NSC menyetujui program aksi CIA-Kementerian Luarnegeri AS untuk mengurangi pengaruh PKI dan Tiongkok serta mendukung unsur-unsur non-komunis di Indonesia.

Peristiwa Indonesia tahun 1965 adalah peristiwa politik. Intinya adalah peristiwa penggulingan Bung Karno. Pembunuhan besar-besaran atas kaum komunis dan Sukarnois adalah jalan untuk menggulingkan Bung Karno. Ini adalah pelaksanaan keputusan NSC yang sudah menetapkan untuk menyingkirkan Sukarno. Oleh karena itu, walaupun badan-badan intel Inggeris, Australia, Malaysia ikut terlibat, dalang dari pembunuhan besar-besaran di Indonesia tahun 1965-1966 adalah National Security Council Amerika. Soeharto dan kaum kanan Angkatan Darat Indonesia adalah eksekutor, adalah pelaksana belaka dari gagasan NSC Amerika Serikat. Tentu, Soeharto yang punya ambisi untuk berkuasa, telah menggunakan kaum kanan Angkatan Darat untuk berkuasa. Soeharto yang tangannya berlumuran darah adalah bertanggungjawab atas pembantaian itu.

Penyingkiran Sukarno sudah menimbulkan korban besar. Yang jadi korban bukan hanya Bung Karno dan kaum komunis, tetapi juga massa pendukung Bung Karno. Bahkan jutaan rakyat Indonesia yang tak bersalah. Dibunuh, disiksa, dipenjarakan, dibuang ke Pulau Buru, dipecat dari pekerjaan, dilarang jadi pegawai negeri; warga negara suku Tionghoa didiskriminasi dan dikucilkan, dibangkitkan kebencian pada suku Tionghoa. Demikianlah akibat realisisasi the policy of containment Amerika Serikat ini. Jelas-jemelas, bahwa dalang dari dalangnya peristiwa 1965 Indonesia adalah NSC Amerika Serikat, yaitu Politbiro PERANG DINGIN, yang telah memutuskan keharusan menggulingkan Sukarno. Penggulingan Bung Karno adalah salah satu mata rantai, hanya satu bagian dari realisasi the policy of containment, pelaksanaan PERANG DINGIN yang dikobarkan Amerika Serikat.

Mata-rantai penting lainnya dari PERANG DINGIN adalah ofensif “perobahan secara damai” untuk membasmi URSS, menggalakkan perlombaan persenjataan besar-besaran. Ofensif ini menimbulkan pukulan dahsyat secara ekonomi dan politik bagi Uni Sovyet. Timbul dan berkembang pula kontradiksi-kontradiksi antar negara-negara sosialis yang tak terpecahkan secara tepat. Pakta Warsawa yang anggota-anggotanya terdiri dari negara-negara sosialis Eropa, yang dibentuk untuk menghadapi NATO, dibubarkan sendiri. Sedangkan NATO memperkuat dan memperluas diri. Dalam pada itu, muncul dan bersimaharajalela kontradiksi antar etnis dalam URSS, Yugoslavia dan berbagai negara sosialis lainnya. “Tembok Berlin” yang dimaksudkan untuk membentengi ibu-kota Republik Demokrasi Jerman dari intervensi kekuatan anti-sosialisme dari Barat, dirobohkan tahun 1989. Tak tertahankan, penyatuan Jerman membikin ambruknya Republik Demokrasi Jerman ditelan Republik Federal Jerman. Pyeryestroika dan Novoye Mishlyeniye – Perestroika Dan Pemikiran Baru -- yang digalakkan Gorbacyov membikin brantakannya Uni Sovyet. Sesudah berkibar hampir selama tiga perempat abad, bendera merah berpalu arit dikerek turun dari puncak istana Kremlin. Maka URSS pun lenyap dari peta politik dunia. Presiden George Bush dalam pedato kenegaraannya awal 1992 memproklamirkan usainya PERANG DINGIN dan mampusnya komunisme.

Sebelum itu, semua negeri sosialis lainnya pun sudah jadi sasaran. Pergolakan di Polandia menggulingkan sistim sosialis mendapat dukungan penuh bahkan dengan campur tangan Amerika Serikat. Ini menjalar ke Hongaria, Rumania, Jerman Timur sampai rontoknya “Tembok Berlin”. Bahkan Tiongkok pun kejipratan, hingga terjadi Peristiwa Tian An Men tahun 1989, yang oleh sementara pengamat Barat dinyatakan sebagai gerakan demokratis. Sesungguhnya, hakekat peristiwa ini adalah usaha untuk menggulingkan sistim sosialis. Karena keteguhan PKT membela sosialisme, dibawah pimpinan Deng Xiaoping, usaha ini dapat digagalkan.

Peristiwa-peristiwa besar ini adalah demonstrasi pukulan dan kemunduran bagi gerakan sosialisme dan komunisme dunia di ujung abad ke-XX. Francis Fukuyama, pembela tangguh kapitalisme, tampil dengan karyanya THE END OF HISTORY AND THE LAST MAN dengan kesimpulan bahwa dunia sudah sampai pada “akhir sejarah”, “komunisme sudah diungguli oleh demokrasi liberal”. Sesudah itu, Samuel P. Huntington pakar terkemuka pembela politik penguasa Amerika Serikat tampil dengan karyanya THE CLASH OF CIVILIZATIONS AND THE REMAKING OF WORLD ORDER. Huntington menyangsikan kebenaran tesis Fukuyama, bahwa komunisme sudah diungguli oleh demokrasi liberal. Tapi dengan menganalisa usainya PERANG DINGIN, Huntington menilai, bahwa kini di dunia terdapat berbagai bentuk otoritarianisme, nasionalisme, korporatisme dan komunisme pasar seperti di Tiongkok. Pembagian umat manusia oleh PERANG DINGIN sudah selesai. Kini pembagian yang lebih fundamental umat manusia tetap ada dalam bentuk etnisitas, keagamaan dan peradaban-peradaban, dan akan menelorkan konflik-konflik baru. Dunia akan terjerumus ke dalam benturan peradaban-peradaban.

Dalam kenyataan, memang demokrasi liberal tidaklah berhasil menunjukkan keunggulannya sebagai pengganti sistim sosialisme di berbagai negara sosialis yang sudah ambruk. Dan sosialisme tidaklah punah di muka bumi. Tiongkok dengan rakyat seperlima penduduk dunia, secara mengagumkan bangkit membangun sosialisme berkepribadian Tiongkok. Betapa pun adanya sementara orang yang menyatakan, bahwa Partai Komunis Tiongkok sudah mencampakkan komunisme, bahwa Tiongkok telah jadi negara kapitalis, tapi Tiongkok telah mengagumkan lawan dan kawan dengan pertumbuhan ekonominya lebih dari 9 % setahun selama dua dasawarsa. Dan dalam kenyataan, kekuasaan politik di Tiongkok adalah satu varian dari diktatur proletariat, yaitu kediktatoran demokrasi rakyat, kekuasaan politik dengan sistim kerjasama multi-partai dibawah pimpinan Partai Komunis Tiongkok. Ajaran komunisme tidak dicampakkan. Dalam Konstitusi Partai Komunis Tiongkok dinyatakan bahwa ideologi pembimbing Partai adalah Marxisme-Leninisme, Fikiran Mao Zedong, Teori Deng Xiaoping dan fikiran penting “Tiga Mewakili”. Undang Undang Dasar negara Republik Rakyat Tiongkok tahun 2004 mencantumkan, bahwa tugas utama bangsa Tionghoa di tahun-tahun mendatang adalah memusatkan usaha untuk modernisasi sosialis. Dibawah pimpinan Partai Komunis Tiongkok dan bimbingan Marxisme-Leninisme, Fikiran Mao Zedong, Teori Deng Xiaoping dan fikiran penting “Tiga Mewakili”, rakyat Tiongkok dari semua bangsa akan melanjutkan berpegang pada kediktatoran demokrasi rakyat dan menempuh jalan sosialis, dengan teguh menyempurnakan lembaga-lembaga sosialis, mengembangkan demokrasi sosialis, menyempurnakan sistim hukum sosialis dan bekerja keras serta berdiri diatas kaki sendiri untuk memodernisasi industri, pertanian, pertahanan nasional dan ilmu serta tekhnologi setapak demi setapak untuk merobah Tiongkok menjadi negeri sosialis dengan kebudayaan dan demokrasi yang tinggi. Perkembangan ekonomi Tiongkok yang menakjubkan terjadi sebagai hasil realisasi isi Undang Undang Dasar tersebut. Rakyat Tiongkok yang rajin lagi cerdas, dibawah pimpinan yang tepat, secara mengagumkan telah berhasil membangun bendungan Tiga Ngarai di Sungai Yangtze, bendungan pembangkit tenaga listrik terbesar di dunia, berhasil membangun jalan kereta api yang tertinggi dari permukaan laut meliwati dataran tinggi Tibet sampai ke ibu-kota Tibet, Lhasa; untuk kedua kalinya berhasil membangun dan mengorbitkan pesawat ruang angkasa dengan dua orang antariksawan Nie Haisheng dan Fei Junlong.

Kini mulai berjalan penghapusan semua pajak terhadap kaum tani. Penghidupan rakyat meningkat terus dengan sangat nyata. Ini lah manifestasi suksesnya pembangunan sosialisme berkepribadian Tiongkok dalam kenyataan. Tahun 2005 perkembangan ekonomi Tiongkok mencapai PDB per kapita sebesar 1000 dollar Amerika. Untuk menghadapi masa selanjutnya, baru saja berlangsung sidang Pleno ke-V CC PKT ke-XVI yang merumuskan usul untuk rencana Rencana Lima Tahun Ke-XI. Kenyataan ini membantah pendapat yang menyatakan Tiongkok telah mencampakkan ekonomi berencana. Kini Tiongkok siap untuk maju melaksanakan Rencana Lima Tahun ke-XI. Sidang pleno ke-V Komite Sentral ke-XVI PKT, 12-10-2005, telah menerima baik "Usul Komite Sentral PKT Tentang Penyusunan Rencana 5 Tahun Ke-XI Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional". Direncanakan, bahwa selama periode Repelita ke-XI, Tiongkok akan memelihara perkembangan ekonomi dengan mantap dan relatif cepat, akan mempercepat pengubahan cara pertumbuhan ekonomi, akan meningkatkan kemampuan mandiri dan pembaruan, akan mendorong perkembangan selaras daerah kota dan desa, akan membangun desa-desa sosialis baru, akan mengintensifkan pembangunan masyarakat harmonis dan akan terus memperdalam reformasi dan keterbukaan terhadap dunia luar. Sesuai dengan tuntutan Kongres Nasional Ke-XVI PKT mengenai pembangunan masyarakat cukup sejahtera dalam 20 tahun pertama pada abad ini, sidang pleno ke-V CC ke-XVI PKT telah mengemukakan target utama pembangunan ekonomi dan sosial selama periode Repelita ke-XI, yaitu pada tahun 2010, merealisasi peningkatan 100% produk domestik bruto per kapita dari tahun 2000 di atas dasar mengoptimalkan struktur, meningkatkan hasil guna ekonomi dan menurunkan pengausan. Gerak raksasa pembangunan ekonomi besar-besaran sedang menggelora dalam pembangunan sosialisme di Tiongkok. Dalam pedatonya di depan konferensi ke-VII Menteri-Menteri Keuangan dan Gubernur-Gubernur Bank Sentral 20 negara di Beijing 15 Oktober 2005, Presiden Hu Jintao menyatakan, bahwa “Tiongkok semenjak melakukan reform dan menjalankan politik terbuka terhadap dunia luar semenjak 27 tahun yang lalu, sudah meletakkan sistim pendahuluan dari ekonomi pasar sosialis dan satu dasar struktur keterbukaan dalam semua dimensinya. Perekonomian tumbuh secara berkesinambungan dengan pesat, dan rakyat mengalami hidup yang menyenangkan. Akan tetapi, kami mengetahui dengan jelas, bahwa Tiongkok masih tetap adalah negeri sedang berkembang yang terbesar di dunia dengan jumlah penduduk sangat besar, dengan dasar ekonomi yang lemah, perkembangan yang tidak merata dan tekanan berat masalah lingkungan hidup serta tingkat hidup rakyat masih belum begitu tinggi. Karena itu, modernisasi di Tiongkok masih merupakan jalan jauh yang menanjak yang membutuhkan kerja keras untuk waktu panjang. Tiongkok sudah menetapkan tujuan membangun masyarakat yang cukup sejahtera secara menyeluruh. Tiongkok bermaksud meningkatkan Pendapatan Bruto Nasional mencapai 4 trilyun dollar Amerika atau PDB per kapita sekitar 3000 dollar Amerika dalam tempo limabelas tahun”. Disamping gagasan mengenai perkembangan perekonomian Tiongkok, kini Tiongkok maju pula dalam pembangunan sistim demokrasi sosialis. Demokrasi politik sosialis Tiongkok mempunyai ciri kepribadian Tiongkok. Ciri-cirinya adalah: demokrasi Tiongkok adalah demokrasi rakyat dibawah pimpinan Partai Komunis; demokrasi Tiongkok adalah adalah demokrasi dengan mayoritas mutlak rakyat bertindak sebagai tuan dari urusan negara; demokrasi Tiongkok adalah demokrasi yang dijamin oleh kediktatoran demokrasi rakyat; demokrasi Tiongkok adalah demokrasi dengan sentralisme demokratis sebagai prinsip organisasi dan cara pelaksanaannya.

Disamping Tiongkok, masih terdapat Republik Sosialis Vietnam, Republik Rakyat Demokrasi Korea dan Kuba yang dengan syarat yang berbeda-beda mempertahankan sistim diktatur proletariat. Maka jelas-jemelas, sosialisme tidaklah punah di muka bumi.

Materialisme Alat Melawan Pembodohan.

Satu setengah abad semenjak Marx menulis Tesis-Tesis Tentang Feurbach dan semenjak Manifes Partai Komunis diumumkan, materialisme dialektis telah menunjukkan keunggulan atas agnostisisme dan idealisme. Dari pandangan materialisme historis, perkembangan sejarah satu setengah abad ini adalah masa kebangkrutan feodalisme dan kemerosotan burjuasi. Burjuasi berada dalam kedudukan defensif, membela diri terhadap ofensif gagasan sosialisme yang baru tampil. Kehancuran Komune Paris, dan keambrukan URSS serta berbagai negara sosialis lainnya di Eropa, dibantainya kaum komunis Indonesia tahun 1965-1966 adalah kegagalan sementara dari gerakan sosialisme dan komunisme dunia. Ini bukanlah menunjukkan bangkrutnya gagasan merobah dunia yang dipaparkan Manifes Partai Komunis, bukanlah bangkrutnya materialisme historis yang jadi filsafat Marxisme. Lahirnya berbagai negara nasional di Asia dan Afrika sehabis Perang Dunia kedua, telah menunjukkan ambruknya sistim imperialisme. Kekalahan Amerika dalam Perang Korea yang mengorbankan 57.120 pasukan AS terbunuh dan luka-luka dan Perang Vietnam yang mengorbankan 40.000 tentara AS terbunuh dan hampir 4000 kapal terbang AS musnah dengan menelan biaya 136 milyar dollar AS menunjukkan, bahwa kekuatan militer yang canggih pun tak bisa membendung perkembangan komunisme di Asia Timur dan Asia Tenggara. Invasi bersenjata dikomandoi CIA di Playa Giron tahun 1961 menunjukkan kegagalan memalukan dari operasi CIA. Blokade selama hampir setengah abad terhadap Kuba yang dijalankan Amerika Serikat mendemonstrasikan kegagalan politik Amerika membasmi pemerintah revolusioner Kuba. Merosotnya kejayaan Inggeris Raya dari imperium yang menguasai dunia sampai awal abad ke-XX menjadi kini tinggal kekuasaan United Kingdom di pulau England menunjukkan kebangkrutan sistim imperialisme Inggeris. Dalam satu setengah abad, jelas jemelas dunia sudah berobah banyak. Tapi perobahan ini masih jauh dari tuntas. Imperialisme yang merajai dunia sampai pertengahan abad ke-XX, kini berobah jadi neo-kolonialisme. Neo-kolonialisme lebih jahat ketimbang imperialisme, karena penghisapan dijalankan liwat penguasa-penguasa setempat, hingga rakyat yang ditindas tidak berhadapan langsung dengan burjuasi asing, tetapi dengan burjuasi negerinya sendiri. Neo-kolonialisme yang dikomandoi Amerika Serikatlah yang memainkan peranan dalam menggulingkan Bung Karno dan terjadinya pembantaian di Indonesia tahun 1965.

Usainya PERANG DINGIN bukanlah menunjukkan sistim demokrasi liberal lebih unggul dari sosialisme. Sosialisme tidaklah punah di muka bumi. Tiongkok bersama Vietnam, Korea Utara dan Kuba bertahan membela sistim sosialisme. Tiongkok dengan tegas berkali-kali menyatakan, bahwa pembangunan sosialisme berkepribadian Tiongkok dilakukan dengan jalan damai, Tiongkok membutuhkan perdamaian dunia demi pembangunan ekonominya. Boleh dikatakan, kini gagasan Lenin memenangkan sosialisme atas kapitalisme liwat perlombaan secara damai, sedang berlangsung dan berada dalam ujian. Berkenankah burjuasi internasional yang dikepalai Amerika Serikat menempuh jalan damai, berlomba dan bersaing dengan gagasan sosialisme dalam koeksistensi secara damai ?.

Indonesia yang sudah empat dasawarsa dikuasai kediktatoran militeris orba, jadi dirundung malapetaka pembodohan, hingga kita kini hidup di Zaman Edan, zaman jahiliyah. Begitu edannya zaman kita, hingga terjadilah “sang pembunuh dengan bangga menyatakan memberi maaf kepada si terbunuh”, “sang pengkhianat Panca Sila menuduh lawannya mengkhianati Panca Sila” ! Jelas sekali, jargon-jargon politik orba adalah jargon-jargon yang anti demokrasi, yang fasistis. Menjadikan Panca Sila “satu-satunya asas bernegara, berbangsa dan bermasyarakat “, menjadikan Panca Sila “sumber dari segala sumber” adalah bertentangan dengan ajaran Bung Karno, bahwa Panca Sila adalah dasar negara.. Putusan-putusan seminar ke-II Angkatan Darat yang melahirkan gagasan Dwi-fungsi ABRI yang anti-demokrasi, yang mengharuskan penggantian istilah Tionghoa dengan Cina bertujuan membangkitkan kebencian atas warga negara suku Tionghoa, pembantaian dan pemenjaraan jutaan warganegara tak bersalah tanpa diadili adalah pelanggaran hak-hak asasi manusia yang tak ada bandingannya dalam sejarah. Sesudah ambruknya URSS, anti Tiongkok merupakan benang merah dari the policy of containment Amerika. Dalam strateginya membendung komunisme dunia, kaum kanan Amerika Serikat secara tangguh sampai kini masih menggalakkan terus gagasan adanya “ancaman Tiongkok”. Inilah mentalitas PERANG DINGIN yang masih gentayangan, walaupun PERANG DINGIN dinyatakan sudah usai.
Politik orba terhadap Tiongkok dibawah kekuasaan Soeharto adalah sesungguhnya mengabdi pada realisasi the policy of containment di Indonesia, realisasi politik pembendungan komunisme, adalah pelaksanaan strategi PERANG DINGIN. Kebijaksanaan orba berkembang sampai melarang penggunaan bahasa dan aksara Tionghoa, mengharuskan mengganti istilah Tionghoa dengan kata Cina demi membangkitkan kebencian pada suku Tionghoa, melarang sekolah-sekolah dan surat-surat kabar berbahasa Tionghoa, melarang rakyat melangsungkan pesta Hari Raya Imlek, bahkan menggalakkan penggantian nama Tionghoa dengan nama Indonesia. Tak bisa diartikan lain, bahwa ini adalah politik rasialis anti demokrasi yang fasistis.

Dengan melaksanakan pembasmian kaum komunis dan Sukarnois, Soeharto dan kaum kanan Angkatan Darat telah menjadi eksekutor, pelaksana tangguh dari the policy of containment di Indonesia. Di bawah kekuasaan orba Soeharto terbinalah zaman jahiliyah, zaman pembodohan, ZAMAN EDAN. Dengan cara pembodohan, cara propaganda a la Goebels, berlangsung pemalsuan sejarah. Panca Sila bukan lagi jadi alat pemersatu bangsa, tapi jadi alat pentungan membasmi lawan politik orba dengan menggunakan tuduhan “anti-Panca Sila” atau “pengkhianatan atas Panca Sila”. Yang melawan rezim orba dituduh ”anti-Panca Sila” atau “mengkhianati Panca Sila”. Semboyan ancaman tentang “bahaya laten komunisme” pun digalakkan. “Pengkhianatan atas Panca Sila” dan “awas bahaya laten komunisme” adalah senjata orba membangkitkan histeria anti-komunisme. Walaupun Soeharto sudah lengser, mentalitas PERANG DINGIN itu kini masih bersimaharajalela. Dan kita kian terjerumus kedalam zaman jahiliah, ZAMAN EDAN.

Kenapa bisa berlangsung pembodohan dalam waktu sekian lama ? Kuncinya adalah: dicabutnya kebebasan rakyat untuk berfikir dan bersuara. Disamping itu telah dipaksakan cara berfikir yang tak ilmiah. Kebenaran tidak didasarkan pada kenyataan, pada hasil pemikiran rakyat, tapi didasarkan pada pandangan penguasa. Penguasa orba lah yang menguasai kebenaran. Hitam atau putih tergantung pada kemauan penguasa orba. Selama berkuasanya rezim orba, berkumandanglah ucapan-ucapan yang tidak masuk akal seperti: “Bung Karno adalah dalang G30S”, “Bung Karno adalah Gestapu Agung”, “Bung Karno menyelewengkan Panca Sila dengan gagasan Nasakom”, “Panca Sila bukanlah hasil galian Bung Karno”, karena itu peringatan 1 Juni sebagai hari lahirnya Panca Sila adalah dilarang, Panca Sila dikeramatkan hingga ada “Hari kesaktian Panca Sila”, “PKI adalah dalang G30S”, “PKI memberontak menggulingkan pemerintah”, “para anggota Gerwani berpesta-pora menyiksa para jenderal korban G30S”, “mata jenderal dicungkil, kemaluannya dipotong”..... dan sebagainya. Semua ini menjadi bahasa kekuasaan, yang membangkitkan histeria anti-komunisme. Pendapat yang menentang kebohongan ini, dinyatakan “anti Panca Sila”. Sejarah pun ditentukan berdasarkan pandangan orba. Kediktatoran orba memaksa rakyat menerima segala yang ditetapkan penguasa. Pandangan yang berbeda dengan pandangan orba dihukum sebagai “menentang Panca Sila”. Dan sebentar-sebentar didengungkan semboyan “bahaya laten komunisme sedang mengancam”. Rakyat hidup dalam suasana ketakutan dan terus-menerus terancam. Tak diperbolehkan bersuara yang berbeda dengan suara orba. Maka pembodohan dan jahiliyah melanda bangsa Indonesia.

Metode berfikir yang salah ikut menyumbang bagi menjalarnya pembodohan. Banyak terjadi orang berfikir bagaikan “meributkan ranting tanpa meneliti pohon”, “meributkan pohon tanpa meneliti hutan”, “meributkan Aidit tanpa meneliti NSC AS – Politbiro PERANG DINGIN – yang sudah memutuskan untuk menyingkirkan Sukarno”. Metode berfikir seperti ini pada hakekatnya adalah eklektisisme. Menggunakan eklektisisme berarti berfikir dengan bergumul pada satu kenyataan yang merupakan bahagian dari satu objek yang besar, merangkai-rangkai berbagai kenyataan, tapi melupakan kenyataan pokok yang hakiki, terus mengambil kesimpulan sesuai dengan selera si penyimpul. Eklektisisme yang menyesatkan itu sering terdapat dalam banyak hal, terutama dalam meneliti peristiwa Indonesia 1965. Peristiwa Indonesia 1965 adalah peristiwa politik. Inti masalah dalam peristiwa Indonesia tahun 1965 adalah soal penggulingan Bung Karno, sebagaimana diputuskan oleh NSC Amerika Serikat. Pemusatan riset seharusnya ditujukan pada NSC Amerika Serikat, tentang tindak tanduknya terhadap Indonesia, terutama terhadap Bung Karno. Pembantaian sekian banyak manusia Indonesia yang merupakan pelanggaran hak-hak asasi manusia yang paling biadab dalam sejarah adalah akibat dari keputusan NSC itu. Dengan eklektisisme tidaklah mungkin dicapai pembongkaran dalang kejahatan ini.
Eklektisisme berguna untuk pemutar-balikkan kenyataan, untuk pembohongan, yang bermuara pada hasutan dan fitnah. Pakai eklektisisme sering disebarkan tuduhan, bahwa PKI telah mengkhianati bangsa dengan tiga kali melakukan pemberontakan. Tuduhan ini muncul dengan pembeberan sejumlah fakta tanpa hubungan dialektis, dan berakhir dengan fitnah tersebut. Walaupun banyak tulisan membantahnya, masih sering diuar-uarkan fitnah ini. Pemberontakan tahun 1926 adalah terhadap kolonialisme Belanda. Tak ada sedikit pun berbau mengkhianati bangsa. Justru ini adalah sikap patriotik, memelopori pembelaan terhadap bangsa Indonesia yang dijajah, memelopori perjuangan kemerdekaan bangsa. Peristiwa Madiun tahun 1948 bukanlah pemberontakan terhadap pemerintah Indonesia. Latar belakangnya adalah Red Drive Proposals yang didalangi Amerika Serikat untuk menyingkirkan kekuatan kiri terutama komunis dari pemerintah Indonesia. Dalam peristiwa ini hampir semua pimpinan utama PKI terbunuh, termasuk Musso dan mantan Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin. Ini adalah permulaan Perang Dingin melanda Indonesia. PKI telah jadi korban perdana Perang Dingin. Peristiwa tahun 1965 tidak bisa dinyatakan sebagai pemberontakan PKI terhadap negara Indonesia. PKI mendukung, bahkan ikut dalam pemerintahan Sukarno. Justru PKI lah yang menginginkan berlangsungnya pemilihan umum, tetapi dijegal oleh kekuatan kanan Angkatan Darat dengan dipelopori A.H.Nasution. Untuk maju ke kedudukan memerintah, PKI tidak berkepentingan menggulingkan Pemerintah Sukarno, lebih-lebih lagi melakukan pemberontakan. Ketakutan akan menangnya PKI jika berlangsung pemilihan umum mendorong Amerika Serikat untuk lebih cepat menggulingkan Bung Karno. Dalam Buku Putih Koptamtib tahun 1978, dideretkan fakta-fakta sejarah yang sengaja dipilih, dengan meninggalkan fakta-fakta Amerika Serikat berusaha menggulingkan Bung Karno. Ini adalah contoh penggunaan eklektisisme untuk memfitnah PKI sebagai dalang G30S dalam rangka merebut kekuasaan negara. Dengan metodologi eklektisisme yang menyesatkan itu pula Nugroho Notosusanto menerangkan, bahwa Panca Sila bukanlah hasil galian Bung Karno. Dengan demikian, Panca Sila bisa dipisahkan dari Bung Karno. Pancasila jadi bisa diinterpretasi menurut kemauan rezim orba. Fitnah yang lebih tidak masuk akal lagi adalah tuduhan PKI mengkhianati Panca Sila yang termasuk sering diuar-uarkan penguasa orba untuk mengobarkan histeria anti komunis. Dalam sejarah, justru PKI lah, bersama dengan PNI yang dengan tangguh membela Panca Sila sebagai dasar negara, sampai berlangsunngnya dua kali pemungutan suara dalam sidang Konstituante di Bandung. Demikian edannya zaman orba, hingga mereka yang menentang Panca Sila dalam Konstituante ini jadi penyangga kekuasaan orba, dan menuduh PKI anti Pancasila. Demikianlah, Indonesia dilanda pembodohan, dilanda jahiliyah.

Reformasi sesudah lengsernya Soeharto menghasilkan kebebasan menulis. Mulut yang selama ini dirajut jadi terbuka. Bermunculanlah tulisan-tulisan membela hak-hak asasi manusia, mengutuk kebiadaban rezim orba. Tapi operasi intel yang merupakan salah satu ciri kediktatoran militer giat beraksi membela orba. Perang syaraf, rekayasa-rekayasa yang dikobarkan operasi intel menghasilkan desinformasi dalam masyarakat. Intrig dan fitnah berkembang biak. Untuk memalsu sejarah, ditampilkan secara rekayasa berbagai saksi yang orang dan ucapannya sulit dicek kebenarannya.
Masalah sejarah yang selama ini dipalsukan orba, jadi sasaran kritik. Sebaliknya, banyak pula muncul tulisan-tulisan yang tidak pasti kebenarannya, yang tidak berdasarkan kenyataan, memanipulasi peristiwa sejarah. Sementara penulis memanipulasi sejarah dengan berselimut kata-kata agaknya, barangkali, bukan tidak mungkin, siapa tahu, ada perkiraan, kira-kira, bisa dipercaya, ada yang mengatakan, diduga keras, boleh jadi, sudah bisa ditebak, tampaknya, entah benar entah tidak..

Dengan didahului kata-kata “entah benar entah tidak”, menghadapi Peristiwa Madiun Hatta sebagai Perdana Menteri sudah secara kongkrit menyatakan, bahwa di Madiun telah didirikan Negara Sovyet. Betapa pun jelas jemelasnya pembohongan, sang penulis atau pembicara bisa terlindung jadi tak bersalah, karena bertudung kata-kata bersayap itu.

Nenek moyang kita mengajarkan, bahwa “Pikir itu pelita hati”. Artinya, dengan berfikir hati pun terang. Tanpa berfikir, gelaplah dunia. Dalam kegelapan berlangsunglah pembodohan. Terbinalah zaman jahiliyah. Untuk melawan pembodohan, haruslah merebut dan membela kebebasan berfikir. Lenyapkan kebiasaan yang serba gampang percaya. Otak harus digunakan untuk berfikir. Untuk bisa berfikir tepat, diperlukan sikap kritis serta cara berfikir yang tepat. Inilah satu-satunya jalan untuk melawan pembodohan. Maka diperlukan penggalakan cara berfikir yang ilmiah, yaitu mencari kebenaran dari kenyataan, segala-galanya bertolak dari kenyataan. Dan berfikir bukanlah hanya untuk mengenal serta memahami keadaan atau dunia. Tapi yang lebih penting adalah untuk merobah keadaan dan merobah dunia.

Fikiran tepat yang dikuasai rakyat akan melahirkan kekuatan yang mampu merobah keadaan. Mampu merobah keadaan dan merobah dunia !
Disinilah letak arti pentingnya memperingati TESIS-TESIS TENTANG FEURBACH yang ditulis Marx 160 tahun yang lalu.

*********


22-10-2005.

CATATAN FILSAFAT

Suar Suroso:


DIALEKTIKA
SENJATA MELAWAN PEMBODOHAN



I. BERLARUT-LARUTNYA PEMBODOHAN

Indonesia dilanda pembodohan. Ada penguasa melakukan pembakaran buku sejarah. Ada yang mau memeriksa keperawanan 3500 gadis. Ada fatwa bahwa dangdutan itu haram. Para tenaga kerja wanita yang bekerja di luarnegeri, banyak diperlakukan sebagai budak belian. Bahkan ada yang berangkat sehat, pulangnya mayat. Sesudah jadi mayat, ada yang tak bisa segera diantar pulang kampung. Ada yang terjun dari jendela lantai 15, tergelantung di angkasa untuk melarikan diri, karena tak tahan siksaan majikan. Sungguh satu pembodohan, para tekawe yang diperlakukan sebagai budak belian, bekerja penuh penderitaan ini dipuja oleh sementara kalangan sebagai pahlawan devisa. Poligami dinyatakan demi kepentingan wanita. Selama orba kuasa, sering diuarkan, bahwa Indonesia akan lepas landas tahun 2000. Pancasila dinyatakan bukan lah hasil galian Bung Karno; dengan Nasakom Bung Karno dituduh menyelewengkan Pancasila; Bung Karno dituduh terlibat G30S; PKI dikutuk sebagai dalang G30S. Sebentar-sebentar dikobarkan histeria bahaya komunis. Peristiwa Madiun dinyatakan sebagai pemberontakan PKI. Walaupun pada masa kepresidenannya, Gus Dur dan Megawati sudah berjasa dalam usaha melenyapkan diskriminasi, warganegara etnis Tionghoa yang hidup turun temurun berbagai generasi, yang tokoh-tokohnya banyak berjasa dalam perjuangan merebut dan membela kemerdekaan Indonesia, masih hidup dalam sasaran penindasan diskriminasi, tak aman dari ancaman penindasan rasialis, artinya tidak terjamin sebagai warganegara Indonesia seutuhnya. Adalah kebohongan menyatakan bahwa warganegara etnis Tionghoa sudah tidak didiskriminasikan lagi. Dalam praktek di lapangan, sampai sekarang ini masih dianaktirikan, seperti dalam pelayanan birokrasi, termasuk untuk masuk dalam birokrasi. Akhir-akhir ini ada pula yang menguar-uarkan: Pram membakar buku. Sejarahwan terkemuka Asvi Warman Adam menemukan, bahwa terjemahan Indonesia buku biografi Bung Karno karya Cindy Adams yang diterbitkan dengan kata pengantar dari Soeharto, telah dikebiri dengan menambah alinea yang berisikan kebohongan tentang Bung Karno tidak suka pada Bung Hatta. Dan banyak tersiar kebohongan lainnya. Inilah hasil pembodohan di zaman orba. Pembodohan terjadi dan bersimaharajalela, karena rakyat tidak dipersenjatai dengan cara berfikir yang ilmiah, tapi dicekoki dengan pembudakan serba-harus-percaya. Rakyat tidak dididik untuk terbiasa berfikir berdasarkan cari kebenaran dari kenyataan.

Ada pembodohan liwat pembohongan kasar di siang bolong seperti kampanye tuduhan Gerwani melakukan tari harum bunga, menyanyikan Genjer-Genjer di Lubang buaya, orang-orang Gerwani mensilet kemaluan dan mencungkil mata para jenderal yang dibunuh oleh Gerakan 30 September. Ada pula pembohongan dengan menggunakan eklektisisme, metode ilmiah-gadungan, seperti yang dipraktekkan Prof. Noegroho Notosoesanto, yang menerangkan bahwa Pancasila bukan hasil galian Bung Karno. Eklektisisme bisa mempesona, karena metode ini dalam menjelaskan satu hal-ihwal menggunakan sederetan data, yang dijadikan alasan seperti masuk akal, tapi dengan kesimpulan yang bertolak belakang dengan kenyataan. Dengan cara beginilah, Prof. Noegroho Notosoesanto meyakinkan orang, bahwa Pancasila bukan hasil galian Bung Karno. Demikian pula halnya dengan tuduhan PKI adalah dalang G30S. Inilah pembodohan tingkat tinggi, kerja intelektuil terpelajar orba. Para intelektuil orba ini , secara internasional mendapat dukungan dari para sejarahwan gadungan seperti Antonie C.A.Dake, dengan karya-karyanya IN THE SPIRIT OF THE RED BANTENG dan SOEKARNO FILES …., dan John Hughes dengan bukunya: THE END OF SUKARNO, Arnold C. Brackman dengan karya-karyanya THE COMMUNIST COLLAPS IN INDONESIA dan INDONESIA COMMUNISM: A History, serta sejarahwan asing sebangsanya dalam mengebiri sejarah Indonesia, terutama dalam menghitamkan Bung Karno.

Betapa pun pembodohan bersimaharaja sekarang, pencerahan akan berlangsung. Kebebasan berfikir dan bersuara akan berkembang. Pembohongan-pembohongan akan kian tertelanjangi. Untuk itu, satu-satunya jalan ialah mendorong maju rakyat berfikir ilmiah. Berfikir ilmiah berarti cari kebenaran dari kenyataan. Segala-galanya bertolak dari kenyataan. Inilah pandangan materialisme.


*******

30-8-2007.

CATATAN FILSAFAT

Suar Suroso:


DIALEKTIKA
SENJATA MELAWAN PEMBODOHAN


II. KEMENANGAN-KEMENANGAN
MATERIALISME.

Pembodohan di Indonesia bersimaharajalela, di kala akhir abad ke-XX dan awal abad ke-XXI adalah abad globalisasi. Dunia telah maju meninggalkan zaman jahiliyah. Dunia mencatat kemenangan-kemenangan akal, ilmu pengetahuan, kemenangan besar materialisme. Manusia kian mengenal dan menguasai hukum alam semesta. Ilmu pengetahuan berkembang pesat di semua bidang. Mulai dari fisika, kimiah, biologi, genetika, astronomi, ilmu kedokteran, pertanian, penerbangan antariksa. Pandangan dunia materialisme, cari kebenaran dari kenyataan kian mempersenjatai manusia untuk mengenal dan menguasai hukum alam semesta.

Ilmu fisika berkembang pesat. Di kala mekhanika Newton tidak memadai lagi untuk menerangkan hal ihwal gerak materi yang rumit dan supra halus, dengan teori kwantum Niels Bohr, maka tampillah mekhanika kwantum yang bisa menerangkan dan menghitung gaya dan gerak yang terjadi dalam proses perobahan inti nuklir. Bersamaan dengan itu, teori relativitas Einstein membawa maju fisika hingga dapat menghitung saling hubungan massa dan energi dengan rumusnya yang terkenal: Energi sama dengan massa dikalikan dengan kwadrat kecepatan sinar. Penemuan tenaga nuklir merupakan langkah besar maju untuk memanfaatkan alam. Sampai awal abad ke XX manusia hanya mengenal dua macam gaya dalam alam semesta, yaitu gaya tarik bumi (gravitasi) dan gaya elektromagnet. Kini dikenal gaya (tenaga) nuklir yang besar sekali. Hasil besar dari mekhanika kwantum adalah, dapat membuktikan bahwa sifat-sifat benda alam, struktur atom dan molekul dapat sepenuhnya diterangkan sebagai gaya listrik antara elektron dan nuklir. Dengan mempelajari inti atom, manusia menemukan tenaga baru alam yaitu tenaga inti, tenaga nuklir yang luar biasa besarnya. Perkembangan fisika plasma, dengan fusi-nuklir telah membawa manusia sampai pada taraf menjelang mampu menciptakan energi yang tak habis-habisnya seperti matahari, menciptakan matahari buatan manusia.

Biologi berkembang sampai manusia berhasil menggunakan kloning, yang berarti tanpa liwat pembuahan telur di indung-telur, bisa menghasilkan turunan hewan sejenis. Teori evolusi Charles Darwin disusul oleh teori keturunan Johann Gregor Mendel awal abad ke-XX, kini berkembang pesat dengan penemuan-penemuan baru dalam ilmu genetika. Ilmu genetika sudah sampai pada taraf mengenaI hukum perobahan makrosom dalam sel benda hidup, hingga akan berguna dalam pengobatan untuk mengatasi penyakit Alzheimer, Parkinson dan Huntington yang menyerang otak. Juga akan berguna bagi menghadapi penyakit kanker, AIDS. Demikian pesatnya penemuan-penemuan baru dalam ilmu genetika, hingga ada kalangan yang menamakan abad ini adalah abad genetika. llmu kedokteran dengan menggunakan alat-alat modern, kini dapat mengetahui jenis kelamin bayi, jauh sebelum bayi dilahirkan. Penelitian astronomi liwat penerbangan antariksa telah sampai pada taraf menemukan planet lain yang mempunyai syarat untuk kehidupan. Berdasarkan cari kebenaran dari kenyataan, penelitian dengan menggunakan kapal ruang angkasa, menyebabkan para ahli fisika pemenang hadiah Nobel 2006, John C. Mather dan George F. Smoot menemukan sifat radiasi benda hitam, radiasi yang berasal dari ledakan raksasa, -- Big Bang – yaitu ledakan ketika lahirnya alam semesta. Dengan penemuan ini, pemahaman tentang asal usul alam semesta yang selama ini bersifat teoretis, kini berobah menjadi praktis, yaitu dapat dipantau dan diukur. Galileo Galilei yang dulunya dikutuk oleh kekuasaan agama, terpaksa diakui kebenaran pandangannya tentang ilmu tata surya.

Dalam sejarah masyarakat manusia, awal abad ke XX mencatat kemenangan besar materialisme-historis dengan dimenangkannya revolusi sosialis Oktober 1917 dibawah pimpinan Lenin. Pembangunan sosialisme dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat mendemonstrasikan kemenangan materialisme-historis yang menjadi ideologi pembimbing Partai Komunis Uni Sovyet. Kemenangan selanjutnya di pertengahan abad ke XX ditunjukkan oleh kemenangan Uni Sovyet dibawah pimpinan Stalin bersama negara Sekutu dalam Perang Dunia kedua, kemenangan perang melawan fasisme. Kemudian disusul dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat seusainya Perang Dunia.

Tapi, dengan dicampakkannya materialisme-historis oleh N.S.Khrusycyov, yaitu dengan melaksanakan gagasannya Negara Seluruh Rakyat dan Partai Seluruh Rakyat yang meninggalkan ajaran klas dan perjuangan klas, dan dilanjutkan lagi oleh M.S.Gorbacyov dengan PYERYESTROIKA I NOVOYE MISHLYENIYE (Perestroika Dan Pemikiran Baru), yaitu dengan dicampakkannya ajaran Marx dan Lenin tentang diktatur proletariat, serta selanjutnya dengan sukarela mencabut fasal Konstitusi URSS yang menjamin kedudukan memimpin dari PKUS, maka URSS ambruk, dan lenyap dari peta politik dunia. Bukannya ajaran Marxisme-Leninisme itu yang salah, atau sudah bangkrut, tapi dicampakkannya materialisme-historis, dicampakkannya filsafat Marxisme adalah akar dari kehancuran URSS. Dan ini disusul oleh brantakannya negara-negara sosialis Eropa Timur.

Demikian pula pengalaman sejarah Indonesia. Meninggalkan materialisme-historis menimbulkan bencana. Peristiwa Madiun, bukanlah pemberontakan PKI, tapi proses pembasmian pimpinan utama PKI. Terpukulnya PKI bersumber pada tidak ditrapkannya materialisme-historis dalam menilai sahabat dan musuh revolusi. Pimpinan PKI, Bung Amir Sjarifoeddin menilai Masjoemi yang sudah anti-komunis, yang dalam Urgensi Program Partainya menyatakan anti-komunisme, tetap dianggap sebagai sahabat untuk bersatu dalam Front Nasional melawan Belanda. Masjoemi diajak dan dimasukkan dalam kabinet Bung Amir, wakilnya diikut-sertakan dalam perundingan Renville. Pada saat kritis, Masjoemi membalik jadi oposisi, mencabut dukungan atas Persetujuan Renville, menarik Menteri-Menterinya dari kabinet. Menghadapi oposisi ini, dengan sukarela Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin meletakkan jabatan. Ini berarti mencampakkan ajaran pokok materialisme-historis yaitu kekuasaan negara adalah masalah pokok dalam revolusi. Begitu Bung Amir Sjarifoeddin meletakkan jabatan, maka dalam rangka pelaksanaan strategi PERANG DINGIN, strategi the Policy of Containment -- pembasmian atas komunisme di dunia -- yang digalakkan Amerika Serikat, lapanglah jalan untuk menjadikan PKI bulan-bulanan buat dibasmi. Masjoemi masuk kabinet baru, dengan program pertama justru untuk melaksanakan Persetujuan Renville. Berkali-kali pimpinan PKI mengajak pimpinan Masjoemi untuk menggalang Front Persatuan Nasional, tapi ditolak oleh pimpinan Masjoemi yang dengan tegas mengajukan semboyan anti imperialisme dan anti komunisme.

Demikian pula, tak berdayanya PKI menghadapi pukulan akibat Peristiwa G30S, bersumber pada kesalahan pimpinan PKI yang meninggalkan ajaran materialisme-historis dalam menilai kekuatan bersenjata RI. Pimpinan PKI menilai dan mengajarkan bahwa ABRI adalah anak rakyat. Kwalitas ABRI tidak ditinjau secara materialisme-historis, yaitu tidak melihat hakekat Angkatan Darat, bahwa pimpinan tertinggi Angkatan Darat dikuasai oleh perwira-perwira hasil didikan Akademi Akademi Militer AS. Maka justru adalah Angkatan Darat yang selama ini oleh pimpinan PKI dinyatakan sebagai anak rakyat, melakukan pembasmian atas PKI.

Pada akhir abad ke-XX dan awal abad ke-XXI, kemenangan-kemenangan materialisme di demonstrasikan di negara-negara yang menjalankan pembangunan dengan mentrapkan sistim sosialis. Tiongkok yang terbelakang telah bangkit bagaikan naga menggeliat di ufuk Timur. Tak ayal lagi, pertumbuhan ekonomi nasional Tiongkok dengan rata-rata lebih sepuluh persen tiap tahun selama lebih dari dua dasa-warsa adalah demonstrasi kemenangan materialisme-historis yang menjadi ideologi pembimbing Partai Komunis yang memimpin Tiongkok. Tiongkok berhasil membebaskan ratusan juta rakyat dari kemiskinan, membangun bendungan raksasa Tiga Ngarai di Sungai Yangtse, bendungan pembangkit tenaga listrik air terbesar di dunia; membangun jalan kereta api Qinghai-Tibet, jalan kereta api tertinggi dari permukaan laut di dunia; mengorbitkan pesawat ruang angkasa dengan satu dan dua awak pesawat; siap melontarkan pesawat ruang angkasa untuk penelitian rembulan, bisa memprodusir dan mengekspor semua komoditi yang dihasilkan negeri kapitalis, mulai dari yang sederhana sampai pada yang paling rumit. Berbagai Rumah Sakit Tiongkok berhasil banyak dalam melakukan cangkok ginjal dan cangkok hati. Para ahli fisika Tiongkok telah berhasil melakukan eksperimen fusi nuklir, yang menghasilkan energi maha besar bagaikan energi matahari. Sejumlah pakar ahli ekonomi dunia menilai, bahwa kekuatan ekonomi Tiongkok sudah mencapai taraf kedua di dunia sesudah Amerika Serikat. Sukses-sukses pembangunan sosialisme berkepribadian Tiongkok ini mendemonstrasikan kemenangan materialisme-historis, dasar filsafat dari ideologi pembimbing Partai Komunis Tiongkok yang memimpin negara Republik Rakyat Tiongkok. Partai Komunis Tiongkok menjunjung tinggi ideologi pembimbing Marxisme-Leninisme, Fikiran Mao Zedong, Teori Deng Xiaoping dan Fikiran Penting Tiga Mewakili, serta secara menyeluruh melaksanakan pandangan ilmiah tentang perkembangan. Dalam pembangunan sosialisme berkepribadian Tiongkok, yang menjadi tujuan sampai pertengahan abad ini adalah membangun masyarakat Tiongkok yang cukup sejahtera dan harmonis.

Perkembangan pesat perekonomian Vietnam juga adalah demonstrasi kemenangan materialisme-historis yang menjadi filsafat ideologi pembimbing Partai Komunis Vietnam. Vietnam yang penuh puing akibat perang agresi Amerika Serikat selama belasan tahun, kini bangkit sebagai kekuatan ekonomi baru di Asia Tenggara. Bukan hanya mampu mencukupi makanan untuk rakyatnya sendiri, Vietnam telah menjadi eksportir beras, termasuk ke Indonesia. Kemajuan pesat perekonomian Vietnam ini adalah berkat pimpinan bijaksana dari Partai Komunis Vietnam, yang menjunjung tinggi ideologi pembimbingnya Marxisme-Leninisme dan Fikiran Ho Chi Minh dengan materialisme-historis dasar filsafatnya. Demikian pula Kuba yang membangun sosialisme dibawah pimpinan Partai Komunis Kuba. Dan Republik Rakyat Demokrasi Korea, bergumul mengatasi kesulitan demi kesulitan, sampai kini tetap bertahan dalam melaksanakan pembangunan negerinya, yang setengah abad yang lalu hancur lebur karena perang Korea yang dilancarkan Amerika Serikat. Kekuatan bertahannya ini didasari oleh materialisme-historis, ideologi pembimbing Partai Pekerja Korea yang dibangun dibawah pimpinan Kim Il Sung dan dilanjutkan oleh penerusnya Kim Jong Il.

Akhir abad ke XX dan awal abad ke XXI mendemonstrasikan kemenangan-kemenangan besar fikiran atas khayalan, kemenangan otak yang berfikir atas otak yang berkhayal, kemenangan filsafat materialisme atas idealisme. Dalam keadaan dunia yang demikian, di Indonesia berlarut-larut pembodohan.

Pembodohan hanya dapat dilawan dengan mengilmiahkan cara berfikir ! Cara berfikir yang ilmiah adalah cari kebenaran dari kenyataan, segala-galanya bertolak dari kenyataan ! Inilah pandangan materialisme.


*******

CATATAN FILSAFAT

SUAR SUROSO:

DIALEKTIKA
SENJATA MELAWAN PEMBODOHAN

III. MATERIALISME DALAM ILMU SOSIAL.

Dalam sejarah, awal abad ke XX mencatat kemenangan besar materialisme-historis dengan dimenangkannya revolusi sosialis Oktober 1917 dibawah pimpinan Lenin. Ini disusul oleh pembangunan sosialisme dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Sukses ini mendemonstrasikan kemenangan materialisme-historis yang menjadi ideologi pembimbing Partai Komunis Uni Sovyet. Kemenangan selanjutnya di pertengahan abad ke XX ditunjukkan oleh kemenangan Uni Sovyet dibawah pimpinan Stalin bersama negara-negara Sekutu dalam Perang Dunia kedua, kemenangan perang melawan fasisme. Kemudian disusul dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat seusainya Perang Dunia.

Tapi, dengan dicampakkannya materialisme-historis oleh N.S.Khrusycyov, yaitu dengan melaksanakan gagasannya Negara Seluruh Rakyat dan Partai Seluruh Rakyat yang meninggalkan ajaran klas dan perjuangan klas, dan dilanjutkan lagi oleh M.S.Gorbacyov dengan PYERYESTROIKA I NOVOYE MISHLYENIYE (Perestroika Dan Pemikiran Baru), yaitu dengan dicampakkannya ajaran Marx dan Lenin tentang diktatur proletariat, serta selanjutnya dengan sukarela mencabut fasal Konstitusi Uni Republik-Republik Sovyet Sosialis (URSS) yang menjamin kedudukan memimpin dari PKUS, maka URSS ambruk, dan lenyap dari peta politik dunia. Banyak faktor yang menyebabkan ambruknya URSS. Tapi bukannya ajaran Marxisme-Leninisme itu yang salah, atau sudah bangkrut. Dicampakkannya materialisme-historis, dicampakkannya filsafat Marxisme adalah akar dari kehancuran URSS. Dan ini disusul oleh brantakannya negara-negara sosialis Eropa Timur.

Demikian pula pengalaman sejarah Indonesia. Meninggalkan materialisme-historis menimbulkan bencana. Peristiwa Madiun, bukanlah pemberontakan PKI, tapi proses pembasmian pimpinan utama PKI. Terpukulnya PKI bersumber pada tidak ditrapkannya materialisme-historis dalam menilai sahabat dan musuh revolusi. Pimpinan PKI, Bung Amir Sjarifoeddin menilai Masjoemi yang sudah anti-komunis, yang dalam Urgensi Program Partainya menyatakan anti-komunisme, tetap dianggap sebagai sahabat untuk bersatu dalam Front Nasional melawan Belanda. Masjoemi diajak dan dimasukkan dalam kabinet Bung Amir, wakilnya diikut-sertakan dalam perundingan Renville. Pada saat kritis, Masjoemi membalik jadi oposisi, mencabut dukungan atas Persetujuan Renville, menarik Menteri-Menterinya dari kabinet. Menghadapi oposisi ini, dengan sukarela Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin meletakkan jabatan. Ini berarti mencampakkan ajaran pokok materialisme-historis, yaitu kekuasaan negara adalah masalah pokok dalam revolusi. Begitu Bung Amir Sjarifoeddin meletakkan jabatan, maka dalam rangka pelaksanaan strategi PERANG DINGIN, strategi the Policy of Containment -- pembasmian atas komunisme di dunia -- yang digalakkan Amerika Serikat, lapanglah jalan untuk menjadikan PKI bulan-bulanan buat dibasmi. Masjoemi masuk kabinet baru, dengan program pertama justru untuk melaksanakan Persetujuan Renville. Berkali-kali pimpinan PKI mengajak pimpinan Masjoemi untuk menggalang Front Persatuan Nasional melawan Belanda, tapi ditolak oleh pimpinan Masjoemi yang dengan tegas mengajukan semboyan anti imperialisme dan anti komunisme.

Demikian pula, tak berdayanya PKI menghadapi pukulan akibat Peristiwa G30S, bersumber pada kesalahan pimpinan PKI yang meninggalkan ajaran materialisme-historis dalam menilai kekuatan bersenjata RI. Pimpinan PKI menilai dan mengajarkan bahwa ABRI adalah anak rakyat. Kwalitas ABRI tidak ditinjau secara materialisme-historis, yaitu tidak melihat hakekat Angkatan Darat, bahwa pimpinan tertinggi Angkatan Darat dikuasai oleh perwira-perwira hasil didikan Akademi-Akademi Militer AS. Maka justru adalah Angkatan Darat yang selama ini oleh pimpinan PKI dinyatakan sebagai anak rakyat, melakukan pembasmian atas PKI.

Pada akhir abad ke-XX dan awal abad ke-XXI, kemenangan-kemenangan materialisme di demonstrasikan di negara-negara yang menjalankan pembangunan dengan mentrapkan sistim sosialisme. Tiongkok menempuh jalan sosialisme berkepribadian Tiongkok, dengan menjalankan reform dan politik terbuka terhadap dunia luar. Tiongkok yang terbelakang, telah bangkit bagaikan naga menggeliat di ufuk Timur. Pertumbuhan ekonomi nasional Tiongkok berlangsung dengan rata-rata lebih sepuluh persen tiap tahun selama lebih dari dua dasa-warsa. Tiongkok berhasil membebaskan ratusan juta rakyat dari kemiskinan, membangun bendungan raksasa Tiga Ngarai di Sungai Yangtse, bendungan pembangkit tenaga listrik air terbesar di dunia; membangun jalan kereta api Qinghai-Tibet, jalan kereta api tertinggi dari permukaan laut di dunia; mengorbitkan pesawat ruang angkasa dengan satu dan dua awak pesawat; siap melontarkan pesawat ruang angkasa untuk penelitian rembulan, bisa memprodusir dan mengekspor semua komoditi yang dihasilkan negeri kapitalis, mulai dari yang sederhana sampai pada yang paling rumit. Berbagai Rumah Sakit Tiongkok berhasil banyak dalam melakukan operasi cangkok ginjal dan cangkok hati. Para ahli fisika Tiongkok telah berhasil melakukan eksperimen fusi nuklir, yang menghasilkan energi maha besar bagaikan energi matahari. Sejumlah pakar ahli ekonomi dunia menilai, bahwa kekuatan ekonomi Tiongkok sudah mencapai taraf kedua di dunia sesudah Amerika Serikat. Sukses-sukses pembangunan sosialisme berkepribadian Tiongkok ini mendemonstrasikan kemenangan materialisme-historis, dasar filsafat dari ideologi pembimbing Partai Komunis Tiongkok yang memimpin negara Republik Rakyat Tiongkok. Partai Komunis Tiongkok dibawah pimpinan Sekretaris Jenderal Hu Jintao, menjunjung tinggi ideologi pembimbing Marxisme-Leninisme, Fikiran Mao Zedong, Teori Deng Xiaoping dan Fikiran Penting Tiga Mewakili, serta secara menyeluruh melaksanakan pandangan ilmiah tentang perkembangan. Dalam pembangunan sosialisme berkepribadian Tiongkok, yang menjadi tujuan sampai pertengahan abad ini adalah membangun masyarakat Tiongkok yang cukup sejahtera dan harmonis.

Perkembangan pesat perekonomian Vietnam juga adalah demonstrasi kemenangan materialisme-historis yang menjadi filsafat ideologi pembimbing Partai Komunis Vietnam. Vietnam yang penuh puing akibat perang agresi Amerika Serikat selama belasan tahun, kini bangkit sebagai kekuatan ekonomi baru di Asia Tenggara. Bukan hanya mampu mencukupi makanan untuk rakyatnya sendiri, Vietnam telah menjadi eksportir beras, termasuk ke Indonesia. Kemajuan pesat perekonomian Vietnam ini adalah berkat pimpinan bijaksana dari Partai Komunis Vietnam, yang menjunjung tinggi ideologi pembimbingnya Marxisme-Leninisme dan Fikiran Ho Chi Minh dengan materialisme-historis dasar filsafatnya. Demikian pula Kuba yang membangun sosialisme dibawah pimpinan Partai Komunis Kuba yang diketuai Fidel Castro. Dan Republik Rakyat Demokrasi Korea, bergumul mengatasi kesulitan demi kesulitan, sampai kini tetap bertahan dalam melaksanakan pembangunan negerinya, yang setengah abad yang lalu hancur lebur karena perang Korea yang dilancarkan Amerika Serikat. Kekuatan bertahannya ini didasari oleh materialisme-historis, ideologi pembimbing Partai Pekerja Korea yang dibangun dibawah pimpinan Kim Il Sung dan dilanjutkan oleh penerusnya Kim Jong Il.

Akhir abad ke XX dan awal abad ke XXI mendemonstrasikan kemenangan-kemenangan besar fikiran atas khayalan, kemenangan otak yang berfikir atas otak yang berkhayal, kemenangan filsafat materialisme atas idealisme. Kini, berteladan pada Kuba, dengan Venezuela dibawah pimpinan Hugo Chavez berdiri di front depan, di Amerika Latin sedang berkobar gerakan maju rakyat yang ingin mewujudkan cita-cita sosialisme. Inilah kemenangan baru materialisme di Amerika Latin.

Dalam globalisasi yang tak terbendung sekarang ini, kemenangan materialisme di dunia akan menjalar ke Indonesia. Mata dan fikiran rakyat Indonesia tak selamanya bisa dibutakan. Cara berfikir rakyat akan berkembang maju. Pandangan materialisme dan metode berfikir dialektika pun akan jadi senjata melawan pembodohan di Indonesia.


*******

CATATAN FILSAFAT

SUAR SUROSO;

DIALEKTIKA
SENJATA MELAWAN PEMBODOHAN


IV. DARI HERAKLEITUS, LIWAT HEGEL, ENGELS DAN LENIN,
SAMPAI MAO ZEDONG.

Materialisme berkembang maju liwat perjuangan hidup mati. Dari materialisme primitif filosof Yunani kuno Demokritus yang mengajarkan bahwa materi terkecil adalah atom yang tak dapat dibagi lagi yang berada di ruang hampa, menjadi materialisme Epikurus yang mengajarkan atom-atom itu bergerak secara abadi dengan kecepatan yang sama, tidak mempunyai kwalitas kecuali bentuk, ukuran dan berat; berkembang jadi materialisme Feurbach yang metafisis, dan sampai pada materialisme Marx, materialisme dialektis.

Berkembangnya pandangan materialisme diikuti oleh kemajuan metode berfikir yang ilmiah. Metode berfikir manusia, metode memandang hal ihwal, berkembang dari metode sederhana sampai jadi kompleks. Dalam memandang alam semesta, filosof Yunani kuno Herakleitus mengajarkan dalam ungkapannya yang terkenal: Panta Rhei – segala-galanya mengalir, segala-galanya bergerak, segala-galanya berobah. Inilah metode berfikir dialektika.

Dialektika berkembang dari masa ke masa, sesuai dengan perkembangan sejarah manusia berfikir. Hegel adalah filosof Jerman yang mengembangkan metode berfikir dialektika dari Herakleitus. Hegel mengungkap, mendalami berbagai segi dan unsur dari dialektika. Marx menjungkir-balikkan dialektika Hegel, mengambil intinya, membuang seginya yang idealis dan menggantinya dengan yang materialis. Engels menulis dalam DIALEKTIKA ALAM: “Dialektika sebagai ilmu dari saling-hubungan universil; hukum-hukum pokoknya adalah: perobahan kwantitas dan kwalitas; saling menyusup antara kutub-kutub yang bertentangan dan saling berobah sesamanya; perkembangan melalui kontradiksi atau negasi dari negasi; perkembangan yang berlangsung dalam bentuk lingkaran spiral”. (F.Engels: DIALECTICS OF NATURE, hal. 17, Progress Publishers, Moscow, 1964). Dan dalam ANTI DUHRING Engels menulis: “Gerak itu sendiri adalah kondradiksi”. ”Jika perpindahan tempat yang sederhana mengandung kontradiksi, maka demikian pulalah dalam bentuk-bentuk gerak lebih tinggi dari materi, dan lebih istimewa lagi dalam kehidupan organik dan perkembangannya” …”Maka oleh karena itu hidup adalah kontradiksi …..begitu berhenti kontradiksi, maka hidup pun berakhir.” (F.Engels: ANTI DUHRING, halaman 167-168, Foreign Languages Publishing House, Moscow, 1954)

Lenin secara luas dan mendalam menstudi masalah dialektika. Dari mempelajari karya Hegel ILMU LOGIKA, Lenin mencatat 16 unsur dialektika sebagai berikut:
l. objektivitas dalam memandang hal ihwal,
2. pelajari keseluruhan saling-hubungan yang banyak segi dari hal ihwal,
3. pelajari perkembangan hal ihwal, geraknya sendiri, hidupnya sendiri,
4. pelajari kecendrungan kontradiksi internnya hal ihwal tersebut,
5. hal ihwal (gejala) harus dipandang sebagai jumlah dan persatuan segi-segi yang bertentangan,
6. perjuangan dari segi-segi yang bertentangan,
7. pemaduan analisa dan sintesa, --- terpecahnya bahagian-bahagian, penjumlahan bahagian-bahagian itu bersama,
8. saling hubungan setiap hal-ihwal,
9. bukan hanya persatuan dari segi-segi yang bertentangan, tetapi juga peralihan tiap-tiap kwalitasnya, peralihan penampilannya, segi-seginya menjadi tiap-tiap lainnya (lawannya yang berkontradiksi),
10.proses penemuan yang tak habis-habisnya atas segi-segi baru, saling hubungan dan lain-lain,
11.proses yang tak habis-habisnya dalam pendalaman pemahaman manusia atas hal-ihwal, gejala-gejala, berbagai proses dan lain-lain, dari gejala luar ke hakekat dan dari hakekat yang kurang mendalam ke yang lebih mendalam,
12.dari koeksistensi ke sebab dan akibat (kausalitas) dan dari satu bentuk saling hubungan ke bentuk yang lain, yang lebih mendalam, lebih bersifat umum.
13.pengulangan menjadi tingkat yang lebih tinggi dari penampilan tertentu sifat hal-ihwal,
14. pengulangan bagaikan kembali balik kepada yang lama, negasi dari negasi.
15.perjuangan isi dan bentuk dan sebaliknya. Pembuangan bentuk, transformasi isi,
16.peralihan kwantitas dan kwalitas dan sebaliknya. (Lenin: KUMPULAN KARYA, bahasa Russia, edisi ke-V, jilid XXIX, hal. 203-204)

Selanjutnya Lenin menulis: “Secara ringkas, dialektika dapat didefinisikan sebagai ajaran tentang persatuan segi-segi yang bertentangan. Ini adalah inti dialektika, tapi ini memerlukan penjelasan dan pengembangan”. (Lenin: KUMPULAN KARYA, bahasa Russia, edisi ke-V, jilid XXIX, hal. 204).

Dari 16 unsur dialektika ini, Lenin memusatkan pada tiga hal: 1. Persatuan dan perjuangan dari segi-segi yang berkontradiksi. 2. Perobahan sesuatu menjadi segi yang berlawanan, peralihan kwantitas jadi kwalitas dan sebaliknya. 3. Negasi dari negasi.

Lebih lanjut, dalam tulisannya TENTANG MASALAH DIALEKTIKA Lenin menulis: “Terbaginya suatu kesatuan menjadi dua dan pengenalan atas bagian-bagiannya yang berkontradiksi adalah hakekat (salah satu yang hakiki, salah satu karakteristik atau ciri yang pokok, jika bukan terpokok) dialektika…. Kesamaan dari segi-segi yang bertentangan… adanya tendens-tendens yang berkontradiksi, saling menyisihkan dan berlawanan di dalam s e g a l a gejala dan proses alam (termasuk jiwa dan masyarakat). Syarat bagi pengetahuan tentang semua proses dunia dalam “gerak sendiri” mereka, dalam perkembangan spontan mereka, dalam kehidupan nyata mereka, adalah pengetahuan tentang mereka sebagai kesatuan dari segi-segi yang bertentangan. Perkembangan adalah “perjuangan” dari segi-segi yang bertentangan. ….. Kesatuan (kesesuaian, kesamaan, keseimbangan-aksi) segi-segi yang berlawanan adalah bersyarat, sementara, tak kekal, relatif. Perjuangan segi-segi yang berlawanan yang saling menyisihkan adalah mutlak, sebagaimana juga perkembangan dan gerak adalah mutlak. (Lenin, Idem, hal. 316-322). Dalam banyak kesempatan Lenin mengemukakan, bahwa kontradiksi adalah inti dari dialektika.

Dari mempelajari karya-karya Lenin ini lah, Mao Zedong pada tahun 1937, tujuhpuluh tahun yang lalu, menulis karyanya TENTANG KONTRADIKSI. Karyanya ini dimulai dengan kalimat: “Hukum kontradiksi di dalam hal-ihwal, yaitu hukum kesatuan dari segi-segi yang berlawanan, adalah hukum terpokok dialektika materialis.” “Lenin sering menamakan hukum ini hakekat dialektika, juga menamakannya inti dialektika”.(EMPAT KARYA FILSAFAT KETUA MAO TJETUNG, hal. 47, Pustaka Bahasa Asing, Peking, 1970)

Semenjak pertengahan tahun limapuluhan abad lalu, karya Mao Zedong ini sudah dikenal di Indonesia. Antara tahun 1956 dan 1964, Jajasan Pembaruan sudah mencetak empat kali terjemahan Indonesia karya ini. Disamping itu, Pustaka Bahasa Asing Peking berkali-kali menerbitkan terjemahan Indonesia karya ini. Dan juga dimuat dalam PILIHAN TULISAN MAO TJE-TUNG jilid pertama serta terdapat berbagai edisi ukuran saku.

TENTANG KONTRADIKSI adalah karya filsafat. Sebagaimana karya filsafat pada umumnya, adalah tidak mudah untuk dicernakan dan dikuasai. Lebih-lebih lagi jika membacanya bukan dari bahasa aslinya. Tetapi karena pemaparannya yang populer, Mao Zedong bisa menguraikan inti dialektika, yaitu ajaran Tentang Kontradiksi yang mudah difahami.

Sayang, kesalahan dalam terjemahan menyebabkan kesalahan dalam memahaminya. Dalam edisi Indonesia yang diterbitkan Jajasan Pembaruan tahun 1958 hal 22, dan edisi tahun 1959 halaman 25, istilah Tionghoa gen ben diterjemahkan pokok; maka gen ben mao dun diterjemahkan menjadi kontradiksi pokok. Dalam edisi tahun 1958 di halaman 30, dan edisi tahun 1959 halaman 35 istilah Tionghoa zhu yao diterjemahkan juga jadi pokok; dan zhu yao mao dun juga diterjemahkan jadi kontradiksi pokok. Dengan demikian dua istilah Tionghoa yang berbeda artinya, yaitu gen ben mao dun dan zhu yao mao dun diterjemahkan menjadi kontradiksi pokok. Oleh karena itu adalah salah, memahami kontradiksi dasar sama dengan kontradiksi pokok. Yang rapih adalah terjemahan bahasa Russia, yang menggunakan kata osnovnoye protivoreciye untuk gen ben mao dun, dan glavnoye protivoreciye buat zhu yao mao dun.

Dengan karyanya TENTANG KONTRADIKSI Mao Zedong telah memperkaya filsafat Marxis, memperdalam ajaran tentang dialektika. Memahami dan menguasai karya ini berarti mempersenjatai diri dengan dialektika Marxis, metode berfikir ilmiah yang diperlukan untuk melawan pembodohan.

*******

CATATAN FILSAFAT

Suar Suroso:


DIALEKTIKA
SENJATA MELAWAN PEMBODOHAN



V. SATU PECAH JADI DUA
DAN DUA BERGABUNG JADI SATU.

Dalam memandang atau mempelajari semua hal-ihwal, Lenin mengajukan metode razdvoyeniye yedyinovo – terbaginya satu kesatuan menjadi dua dan yedyinstvo protivopolozhnostyei – persatuan segi-segi yang bertentangan, sebagai hukum dari dialektika. (Baca: Lenin TENTANG MASALAH DIALEKTIKA). Ungkapan ini secara populer bisa difahami sebagai satu pecah jadi dua dan dua bergabung jadi satu. Segala hal-ihwal, baik hal-ihwal alam semesta, hal-ihwal masyarakat, atau pun hal-ihwal fikiran, haruslah dipandang atau dipelajari dalam geraknya, dalam proses perobahannya. Dan pada setiap hal ihwal pasti terdapat berbagai seginya. Segi-segi dalam satu hal ihwal itu saling berbeda, saling bertentangan, saling berkontradiksi. Proses perobahan hal ihwal itu terjadi dalam bentuk bentrok atau perjuangan segi-segi yang bertentangan. Atau dalam bentuk persatuan dari segi-segi yang bertentangan. Kedua-dua kejadian ini adalah pelaksanaan hukum dialektika.

Hujan adalah peristiwa alam yang sangat biasa. Hujan terjadi karena mengendapnya uap air dari awan disebabkan oleh penurunan temperatur. Uap yang ringan karena molekul-molekul air yang renggang melayang sebagai awan. Dengan penurunan temperatur di udara, molekul-molekul air yang renggang itu jadi memadat, bersatunya molekul-molekul air itu menjadi air. Turunlah hujan. Yang terjadi adalah bersatunya segi-segi hal ihwal, dalam hal ini bersatunya molekul-molekul uap air, hingga menghasilkan hal ihwal yang baru, yaitu air hujan. Campuran dua warna bisa menghasilkan warna baru, seperti kuning dicampur dengan biru akan menghasilkan hijau; merah dicampur dengan biru akan menghasilkan lembayung. Disini terjadi bersatunya segi-segi yang bertentangan, menghasilkan hal yang baru, dua bergabung jadi satu.

Mendidihnya air yang dipanaskan adalah peristiwa fisika perobahan air menjadi uap. Molekul air yang semula bersatu, karena dipanaskan jadi saling berpisahan hingga terbentuk uap air. Disini terjadi terpecahnya kesatuan molekkul air menjadi molekul uap yang berbeda sifatnya dengan air. Sinar yang tanpa warna bisa diurai menjadi pelangi warna-warni dengan meliwatkan sinar tersebut pada suatu prisma. Yang terjadi adalah terbaginya satu kesatuan menjadi segi-segi yang berlainan, satu pecah jadi dua.

Bom hidrogen adalah bahan ledak fusi-nuklir yang terjadi karena berlangsungnya fusi nuklir, yaitu penggabungan dua isotop hidrogen, Deuterium dan Tritium. Fusi ini membentuk Helium dan neutron, dan mengeluarkan energi yang dahsyat. Ini adalah peristiwa penggabungan, bersatunya dua jenis atom yang melahirkan atom baru. Dalam fisika plasma terjadi proses fusi nuklir, yaitu penggabungan atom-atom yang berbeda dan melahirkan unsur baru dan bersamaan dengan itu timbulnya energi yang luar biasa besarnya. Disini berlangsung proses dua bergabung jadi satu.

Disamping itu, terjadi pemecahan nuklir, fissi-nuklir, transmutasi nuklir, yaitu atom yang radioaktif berproses mengeluarkan sinar (radiasi) alfa, beta dan gamma, dan menjadi unsur baru. Helium-4 yang memiliki dua neutron dan dua proton, karena radiasinya sendiri jadi berobah menjadi unsur baru, Deuterium. Demikian pula atom-atom yang radioaktif Uranium U-235 dan Plutonium Pu-239 mengeluarkan radiasi. Proses ini mengeluarkan energi yang besar. Inilah dasar pembentukan bom atom dan pembangkit tenaga listrik nuklir komersial. Disini terjadi terpecahnya atom melahirkan yang baru. Yang terjadi adalah satu pecah menjadi dua.

Penguraian dalam proses kimiah adalah terpecahnya segi-segi yang bertentangan dari suatu persenyawaan kimiah. Molekul air, H2O, adalah persenyawaan yang terdiri dari atom-atom H2 dan O2, dapat pecah menjadi molekul-molekul H2 dan O2. Kebalikannya, penggabungan dua atom hidrogen dengan satu atom oxigen membentuk molekul air. Kwalitas molekul air berbeda dengan kwalitas molekul hidrogen dan molekul oksigen. Dalam kedua macam proses kimiah itu, terjadi perobahan kwalitas air (H2O) menjadi molekul hidrogen (H2) dan molekul oksigen (O2). Dan sebaliknya, molekul hidrogen (H2) bergabung dengan molekul oksigen (O2) membentuk molekul air (H2O). Banyak sekali peristiwa reaksi kimiah berlangsung dalam bentuk penyatuan atom-atom yang berbeda, menjadi molekul dengan kwalitas baru sama sekali. Penyatuan dan pemisahan terjadi dalam proses perobahan kwalitas suatu persenyawaan kimiah.

Dalam biologi, bergabungnya sperma dengan telur dalam indung telur melahirkan embryo – kecambah yang akan tumbuh jadi benda hidup baru. Hidup adalah berlangsungnya proses perobahan kimiah dalam sel-sel yang merupakan bagian dari benda hidup. Dari benda hidup yang paling sederhana, mikroba-mikroba atau binatang satu sel hidup dengan melangsungkan mengkonsumsi oksigen dan membuang kotoran ampas dari cernaan. Oksigen yang dikonsumsi beroperasi dalam sel, menyebabkan perobahan-perobahan khromosom yang terpecah menjadi berlipat ganda. Penggandaan khromosom, terpecahnya kromosom jadi berlipat-ganda menyebabkan terbentuknya sel-sel baru. Terbentuknya sel baru itulah yang merupakan proses hidup. Hal ini terjadi pada binatang satu sel sampai pada makhluk paling rumit, manusia. Proses penggabungan-penggabungan dan pemecahan-pemecahan jalin berjalin. Demikianlah dialektika hidup.

Dalam masyarakat, banyak terjadi perobahan kekuasaan negara, perobahan pemerintah, perobahan kekuasaan politik yang berlangsung liwat perjuangan golongan-golongan politik yang saling mengalahkan, liwat perjuangan klas, satu klas mengalahkan klas lawannya, liwat revolusi hingga terbentuk kekuasaan politik baru yang menjadi ciri baru dari masyarakat yang berobah itu. Perobahan ini terjadi liwat kontradiksi yang antagonistik, yaitu salah satu dari segi-segi yang berkontradiksi itu menang mengalahkan segi lawannya. Inilah perjuangan dari segi-segi yang bertentangan.

Banyak juga terjadi perobahan kekuasaan politik, yang berlangsung liwat persatuan dari segi-segi yang bertentangan, yaitu terjadi dengan terwujudnya koalisi berbagai kekuatan sosial yang semula saling bertentangan, hingga melahirkan satu pemerintah koalisi dengan ikut serta atau didukung oleh semua unsur masyarakat yang saling bertentangan itu.

Jadi, satu pecah jadi dua dan dua bergabung jadi satu adalah hukum dialektika yang tidak semestinya dipertentangkan, karena dua-duanya berlaku dalam syarat-syarat tertentu pada proses perobahan suatu hal ihwal.

Dalam karyanya TENTANG MENGURUS SECARA TEPAT KONTRADIKSI DI KALANGAN RAKYAT, tahun 1957, Mao Zedong secara populer memaparkan perbedaan antara kontradiksi di kalangan rakyat dan kontradiksi dengan musuh; dipaparkan pengertian rakyat dan pengertian musuh; serta jalan dan usaha yang harus ditempuh dalam menyelesaikan berbagai kontradiksi di kalangan rakyat. Dipergunakan kediktatoran terhadap musuh, dan demokrasi terhadap rakyat. Inilah pelaksanaan diktatur demokrasi rakyat. Diktatur demokrasi rakyat hakekatnya adalah diktatur proletariat. Di Tiongkok, diktatur demokrasi rakyat adalah kekuasaan politik kerjasama multi-partai di bawah pimpinan Partai Komunis. Dalam menyelesaikan kontradiksi di kalangan rakyat dipergunakan metode meyakinkan, metode kritik menghindari kontradiksi yang antagonistis. Dipergunakan pedoman mengobat penyakit untuk menyembuhkan si sakit. Dewasa ini, dalam pembangunan sosialisme berkepribadian Tiongkok, membangun masyarakat yang cukup sejahtera dan harmonis, pasti akan menghadapi banyak kontradiksi dalam masyarakat. Tentulah akan banyak berlaku metode dialektika persatuan segi-segi yang bertentangan, dua bergabung jadi satu menghindari kontradiksi-kontradiksi yang antagonistis dalam memecahkan kontradiksi-kontradiksi ini.

Dalam masyarakat Indonesia, pengalaman menunjukkan di kala berlangsungnya revolusi Agustus 1945, rakyat sedang berjuang melawan kaum kolonial Belanda yang ingin kembali berkuasa. Berbagai kontradiksi terdapat dalam masyarakat. Kontradiksi antara kaum tani dengan kaum tuan-tanah feodal, kontradiksi kaum buruh lawan majikan, kontradiksi antara berbagai partai politik yang tumbuh bagaikan jamur seusai hujan, kontradiksi antara berbagai kekuatan bersenjata yang dibentuk rakyat. Kontradiksi-kontradiksi ini dipecahkan dengan metode persatuan segi-segi yang bertentangan. Tapi kontradiksi rakyat melawan kaum kolonial dipecahkan dengan metode saling mengalahkan, bahkan liwat pertempuran bersenjata. Dua jenis kontradiksi, dipecahkan dengan dua metode yang berbeda. Kedua metode itu adalah metode dialektika.


**********

2-9-2007.

Arsip Blog