Bungarampai ini berisi tulisan-tulisan, baik yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku, mau pun yang belum atau tidak dibukukan.

23 Oktober 2009

CATATAN FIKSAFAT

SUAR SUROSO:

DIALEKTIKA
SENJATA MELAWAN PEMBODOHAN


VI. KONTRADIKSI DASAR
DAN KONTRADIKSI POKOK.

Dalam proses perkembangan segala hal-ihwal terdapat banyak kontradiksi. Bertambah rumit hal-ihwal, bertambah banyak kontradiksi di dalamnya. Di antaranya terdapat satu kontadiksi dasar dan satu kontradiksi pokok. Memahami perbedaan antara kontadiksi dasar dan kontradiksi pokok ini sangat penting.

Perobahan satu hal-ihwal ditentukan oleh penyelesaian kontradiksi dasar itu. Jika kontradiksi dasarnya terselesaikan, maka terjadilah perobahan hal ihwal itu. Selama kontradiksi dasar belum terselesaikan, belumlah berobah hakekat atau kwalitas hal ihwal tersebut. Karena itu, menemukan dan memahami kontradiksi dasar satu hal-ihwal adalah sangat penting.

Untuk merobah kwalitas suatu hal-ihwal, harus dengan tepat menentukan kontradiksi dasarnya. Itu dimulai dengan meneliti hakekat hal-ihwal yang akan dirobah. Harus dipelajari secara kongkrit semua saling hubungannya dan semua kontradiksi yang ada. Dari sekian banyak kontradiksi, pasti ada satu kontradiksi dasar. Pada hal-ihwal yang rumit, disamping kontradiksi dasar terdapat banyak kontradiksi lainnya. Seringkali tidak bisa langsung kontradiksi dasar yang diselesaikan. Di antara kontradiksi yang banyak itu, ada kontradiksi, yang jika diselesaikan akan memudahkan atau membantu penyelesaian kontradiksi dasar. Kontradiksi ini adalah kontradiksi pokok. Dalam penyelesaian semua hal-ihwal, mencari kontradiksi pokoknya adalah jalan yang harus ditempuh untuk sampai menyelesaikan kontradiksi dasar. Menghadapi hal-ihwal yang rumit, yang banyak kontradiksinya, haruslah mencengkam satu kontradiksi pokok, sedangkan kontradiksi-kontradiksi lainnya adalah kontradiksi yang sekunder.

Dalam praktek, misalnya: rombongan yang ingin menyeberangi sungai. Untuk bisa sampai ke seberang, terdapat berbagai kontradiksi. Melintasi, menyeberang sungai adalah kontradiksi dasar. Sungai bisa diseberangi jika ada jembatan, atau jika rombongan bisa berenang, atau jika ada perahu. Dalam keadaan sungai dalam, lebar dan dengan arus yang kuat, sulitlah penyeberangan dilakukan dengan berenang. Jika tak ada jembatan, menyeberang dengan naik perahu adalah satu-satunya jalan. Maka mendapatkan perahu merupakan kontradiksi pokok. Adanya perahu, kalau tidak dipakai, kontradiksi dasar belum terpecahkan. Dengan didapatnya perahu, maka mudahlah dilakukan penyeberangan sungai, yaitu dapatlah memecahkan kontradiksi dasar. Maka sebelum menyelesaikan kontradiksi dasar, harus diselesaikan lebih dulu kontradiksi pokok. Tanpa menyelesaikan kontradiksi pokok ini, kontradiksi dasar tidak bisa diselesaikan.

Dalam alam semesta, setiap hal ihwal yang berobah selalu terjadi liwat penyelesaian kontradiksi dasarnya. Air bisa berobah jadi uap, jika molekul air mencapai titik didih 100 derajat Celsius. Temperatur air adalah menentukan sifat air sebagai benda padat (es) , benda cair (air), atau uap (yang menguap). Dengan memberi panas, maka temperatur air bisa mencapai titik didih, yaitu 100 derajat Celsius, maka terjadilah perobahan air menjadi uap. Disini, perobahan temperatur adalah kontradiksi dasar dalam proses perobahan sifat air. Merobah temperatur air adalah cara memecahkan kontradiksi dasar itu.

Dalam biologi, tumbuh-tumbuhan hidup mulai dari biji-bijian kering yang tumbuh jadi kecambah. Tumbuhnya biji kacang menjadi kecambah adalah liwat proses kimiah, yaitu berlangsungnya perobahan sel-sel organik dalam biji kacang itu. Biji kacang harus dipandang satu kesatuan dengan sekitarnya. Untuk proses perobahannya, di sekitarnya harus terdapat peranan: air, temperatur tertentu, dan oksigen. Dalam keadaan biasa, yaitu temperatur ruangan dan udara sebagaimana biasa, maka adanya air adalah menentukan untuk berlangungnya proses kimiah dalam biji kacang tersebut. Adanya air merupakan kontradiksi pokok untuk bisa berlangungnya penyelesaian kontradiksi dasar, yaitu dengan disiramkan air ke biji kacang, atau biji kacang direndam dalam air berlangsunglah hidup biji kacang menjadi kecambah. Tanpa air yang disiramkan pada biji kacang, tak akan tumbuh biji itu, tak akan selesai kontradiksi dasarnya. Mendapatkan air adalah kontradiksi pokoknya. Adanya air saja, yaitu terpecahkannya kontradiksi pokok, belumlah berarti terpecahkan kontradiksi dasar. Biji kacang baru berobah jadi kecambah, kontradiksi dasar baru terpecahkan, bila air disiramkan pada kacang atau kacang direndamkan dalam air. Dengan demikian, sangat jelas beda artinya kontradiksi dasar dan kontradiksi pokok.

Dalam proses perobahan masyarakat, masyarakat jajahan bisa berobah jadi masyarakat merdeka. Menurut pengalaman Indonesia, dalam masyarakat jajahan terdapat banyak kontradiksi. Ada kontradiksi antara rakyat melawan kaum kolonial, kontradiksi antara kaum tani lawan tuan tanah feodal, kontradiksi antara buruh lawan majikan, kontradiksi antara berbagai golongan pedagang, kontradiksi antara pedagang lawan kaum tani, kontradiksi antara berbagai golongan politik atau partai politik. Kontradiksi dasarnya adalah kontradiksi antara massa rakyat anti kolonial lawan kaum kolonial. Kalau kontradiksi ini terpecahkan, maka berobahlah masyarakat jajahan itu menjadi masyarakat merdeka. Walaupun kontradiksi antara kaum tani dan tuan tanah terpecahkan, kontradiksi antara pedagang dengan kaum tani terpecahkan, tapi jika kontradiksi rakyat dengan kaum kolonial tidak terpecahkan, maka masyarakat tetap adalah masyarakat jajahan, tidak terjadi perobahan sifat masyarakat. Maka kontradiksi antara rakyat tertindas lawan kaum kolonial adalah kontradiksi dasar masyarakat jajahan. Oleh karena itu, penyelesaian berbagai kontradiksi yang banyak itu harus mengabdi pada penyelesaian kontradiksi dasar.

Jadi, kontradiksi-kontradiksi yang banyak terdapat dalam satu hal ihwal itu tidak menempati kedudukan yang sama. Satu diantaranya adalah kontradiksi dasar. Pada umumnya, tidaklah bisa langsung diselesaikan kontradiksi dasar itu. Ada sejumlah kontradiksi tertentu yang harus diselesaikan terlebih dulu untuk bisa menyelesaikan kontradiksi dasar. Diantara sekian banyak kontradiksi itu, ada satu diantaranya yang jika diselesaikan, memainkan peranan mempercepat atau mempermudah penyelesaian kontradiksi dasar. Kontradiksi ini adalah kontradiksi pokok. Selesaikan dulu kontradiksi pokok, maka akan mudah dan cepat bisa diselesaikan kontradiksi dasar. Penyelesaian kontradiksi pokok ini mempunyai peranan mempermudah atau mempercepat penyelesaian kontradiksi dasar. Kontradiksi dasar tidak bisa langsung diselesaikan sebelum berbagai kontradiksi yang ada diselesaikan lebih dulu. Oleh karena itu, perlu dengan tepat menentukan kontradiksi pokok, suatu hal-ihwal. Jiika kontradiksi pokok diselesaikan, akan mudah atau cepat dapat diselesaikan kontradiksi dasar. Maka kontradiksi pokok bisa diartikan ambeg parama arta.

Semenjak awal abad ke-XX, sejarah Indonesia mencatat perobahan-perobahan masyarakat yang penting-penting. Dari jajahan Belanda, tahun 1942 Indonesia berobah jadi jajahan Jepang. Selama jajahan Belanda, kontradiksi dasar masyarakat Indonesia adalah kontradiksi antara rakyat jajahan melawan kaum kolonial Belanda. Di zaman Jepang, kontradiksi dasar masyarakat adalah antara rakyat melawan penguasa fasis Jepang. Kekalahan fasis Jepang dalam Perang Dunia kedua memberi kesempatan bagi rakyat Indonesia merebut kemerdekaan. Meletuslah revolusi Agustus 1945, dan dengan proklamasi 17 Agustus Indonesia menjadi negeri merdeka. Kontradiksi rakyat lawan penguasa fasis Jepang sudah terpecahkan dengan kemenangan rakyat. Sesudah jadi negeri merdeka, timbullah kontradiksi baru. Kemerdekaan Indonesia diancam oleh usaha kembalinya kaum kolonial Belanda untuk berkuasa. Jika Belanda berhasil menguasai kembali Indonesia, Indonesia berobah lagi jadi negeri jajahan. Karena itu kontradiksi rakyat Indonesia melawan usaha kembalinya kolonial Belanda adalah kontradiksi dasar. Belanda melancarkan dua kali agresi bersenjata untuk mengalahkan Republik Indonesia. Indonesia memenangkan perjuangan membela kemerdekaan ini, hingga Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Sesudah kemerdekaan diakui Belanda, Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri di tengah-tengah kehidupan bangsa-bangsa merdeka di dunia. Selanjutnya Negara Kesatuan Republik Indonesia menghadapi kontradiksi-kontradiksi baru, yaitu masalah membangun perekonomian negeri, membangun kebudayaan bangsa, mengembangkan pendidikan nasional, membangun angkatan bersenjata RI, melawan usaha kaum rasialis mengadu-domba antar berbagai etnis, melawan usaha-usaha kaum separatis yang membahayakan keutuhan Negara Kesatuan RI. Dari sekian banyak kontradiksi yang muncul sesudah kedaulatan Indonesia diakui Belanda, membela keutuhan NKRI adalah kontradiksi dasar. Kontradiksi ini berwujud perjuangan melawan kaum separatis, mulai dari melawan DI/TII yang mau mendirikan negara Islam Indonesia, sampai PRRI-Permesta yang mendirikan Republik tandingan di Sumatera.

Selama jajahan Belanda awal abad ke-XX, berbagai perjuangan berlangsung untuk memecahkan kontradiksi dasar , yaitu untuk mengalahkan Belanda. Mulai dari lahirnya berbagai organisasi rakyat, sampai berdirinya partai-partai politik yang memperjuangkan kemerdekaan nasional. Bahkan terjadi pemberontakan nasional bersenjata tahun 1926 dibawah pimpinan PKI. Pemberontakan ini ditindas dan dipadamkan Belanda, karena kekuatan rakyat yang memberontak tidak seimbang dengan kekuatan kekuasaan kolonial. Dan partai-partai politik yang membahayakan kekuasaan Belanda dinyatakan terlarang oleh pemerintah Belanda seperti PKI dan PNI.

Dari mempelajari proses penyelesaian kontradiksi dasar masyarakat Indonesia semenjak awal abad ke-XX itu dapat dicatat, pentingnya memperhatikan segi-segi kontradiksi , yaitu kekuatan yang bertarung dalam proses kontradiksi itu. Di zaman kolonial Belanda ada dua segi yang berkontradiksi, yaitu kekuatan rakyat melawan kolonialisme dan kekuatan kekuasaan kolonial. Kekuatan kekuasaan kolonial adalah mengungguli kekuatan rakyat. Segi kontradiksi ini menduduki kedudukan berkuasa, kedudukan memimpin. Hakekat hal-ihwal ditentukan oleh segi yang memimpin dalam kontradiksi dasarnya. Kekuatan rakyat yang berlawan adalah segi kontradiksi yang lemah, tidak memimpin. Kedua segi yang berkontradiksi ini tidaklah tetap, bisa berobah. Yang kuat berobah jadi lemah, sebaliknya yang lemah bisa berobah menjadi kuat. Kegiatan pejuang kemerdekaan, mengorganisasi, menggerakkan rakyat berpolitik, meningkatkan kesadaran rakyat adalah usaha untuk merobah kekuatan yang lemah itu menjadi kuat. Dalam situasi belum mampu mengalahkan kekuasaan kolonial Belanda, maka membangun dan memperkuat kekuatan rakyat yang berjuang, merupakan kontradiksi pokok. Dengan kegiatan ini, segi rakyat yang berjuang dapat diperkuat. Jadi segi-segi yang saling berjuang, segi-segi yang berkontradiksi dalam kontradiksi dasar itu bisa berobah. Karena pecahnya Perang Asia Timur Raya, kekuasaan kolonial Belanda jadi goyah dan ambruk, kedudukannya sebagai segi kontradiksi yang memimpin digantikan oleh kekuasaan fasis Jepang. Adanya segi kontradiksi baru, fasis Jepang yang memegang kekuasaan, segi kontradiksi yang memimpin, maka hakekat masyarakat Indonesia berobah jadi masyarakat jajahan Jepang.

Untuk merobah satu hal ihwal, perlu diperhatikan segi-segi kontradiksi hal ihwal tersebut. Segi-segi kontradiksi itu tidak tetap, bisa berubah. Yang lemah menjadi kuat, yang kuat jadi lemah. Dengan bermacam ragam kegiatan, bisa diusahakan merobah segi-segi kontradiksi itu, menurut kebutuhan. Perlu dicengkam segi pokok kontradiksi, yaitu segi yang berdominasi, yang menentukan hakekat hal ihwal.

Kontradiksi apa saja yang terdapat dalam masyarakat Indonesia setelah Soeharto lengser ? Kontradiksi mana yang jadi kontradiksi dasar ? Untuk perobahan masyarakat Indonesia, mana kontradiksi pokoknya ? Diperlukan studi, pemikiran yang cermat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.


******

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog