Bungarampai ini berisi tulisan-tulisan, baik yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku, mau pun yang belum atau tidak dibukukan.

24 Oktober 2009

EKONOMI DUNIA

Suar Suroso:

KRISIS MONETER DUNIA KAPITALIS
DAN HARAPAN PADA SOSIALISME

(2)

Burjuasi sempat bergendang paha dengan robohnya Tembok Berlin. Disusul panji merah berpalu-arit terkulai, dikerek turun dari puncak istana Kremlin. Negara Uni Republik-Republik Sovyet Sosialis brantakan. Demikian pula negara-negara sosialis di Eropa Timur. URSS lenyap dari peta politik dunia. Dalam pedato kenegaraannya awal 1992, Presiden George Bush memproklamirkan “Perang Dingin sudah usai, komunisme sudah mampus dan kita menang !”

Soeharto dan para punggawanya menepuk dada. Merasa rezim orba dibenarkan sejarah telah membasmi komunis dan Sukarnois. Telah melarang penyebaran ajaran sosialisme di seluruh Indonesia. Melarang buku-buku karya Pramudya dan semua karya pengarang Lekra tak pandang judul dan waktu terbit. Dan di bidang ekonomi, rezim orba dipandu oleh para pembela ekonomi pasar bebas dengan para ahlinya dari “mafia Berkeley”. Ekonomi terpimpin yang digagaskan Bung Karno dicampakkan. Indonesia pun menjadi negeri tergantung, terutama pada Amerika Serikat. Maka semuanya bermuara pada terpuruknya ekonomi Indonesia, dengan Suharto dinilai PBB sebagai koruptor nomor wahid di dunia.

Menyusul pedato Presiden Bush yang mengumumkan usainya Perang Dingin, para pembela tangguh kapitalisme, Francis Fukuyama tampil dengan karyanya “The End of History. Dinyatakannya liberalisme sudah mengungguli Marxisme. Dan menurut Samuel Huntington usainya Perang Dingin akan disusul oleh The Clash of Civilisations. Gagasan inilah yang membimbing politik luarnegeri Amerika Serikat yang main gunakan kekerasan senjata dimana-mana untuk merajai dunia. Dan neo-liberalisme pun marak merebak melanda dunia. Hasilnya adalah krisis moneter dunia sekarang ini.

Adalah wajar, dalam saat dunia dilanda krisis moneter kapitalis ini, orang menoleh ke sukses-sukses pembangunan ekonomi Tiongkok dan mendambakan sosialisme. Ada sementara kalangan yang merasa tidak sudi menyatakan Tiongkok itu melaksanakan sistim sosialis. Ada yang menyebut Tiongkok sebagai negeri dalam tahap permulaan kapitalisme. Bahkan tak sedikit yang menyatakan sudah menjadi negeri kapitalis. Prof. Cui Zhiyuan menyatakan Tiongkok adalah menjalankan sistim “kapitalisme Sungai Kuning”. Sebaliknya, Dr Han Hwie-Sung menulis, bahwa Tiongkok menjalankan sistim “sosialisme Sungai Kuning”.

Nama apa pun yang diberikan pada Tiongkok, tidaklah akan merobah kenyataan Tiongkok sesungguhnya. Tiongkok dewasa ini adalah negara besar yang tak bisa ditinggalkan dalam urusan-urusan dunia. Dalam usaha keras mengatasi krisis moneter dunia kapitalis sekarang, para tokoh negara-negara besar dunia menyuarakan keinginan mengikutkan-sertakan Tiongkok. Bahkan di Indonesia ada yang menulis, menjadikan Tiongkok sebagai kiblat untuk mengatasi krisis moneter sekarang ini. Ada pula yang menjuluki Tiongkok sebagai neo-IMF, karena kekuatan finansiilnya yang mengungguli semua negara di dunia.

Tiongkok memang sedang mempesona. Dunia mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi Tiongkok adalah menakjubkan dalam sejarah. Potensi ekonomi Tiongkok yang jadi mengagumkan, bukanlah hasil penumpukan riba atau buah spekulasi moneter bursa saham. Tapi adalah hasil cucuran keringat dan bantingan tulang rakyat pekerja. Inilah realisasi pemahaman ilmiah tentang hakekat dan tugas utama sosialisme yang diajukan Teori Deng Xiaoping. Yaitu meningkatkan produksi material besar-besaran liwat pembebasan dan pengembangan tenaga produktif. Ini bisa terjadi, karena Republik Rakyat Tiongkok menjalankan sistim politik kerjasama multi partai di bawah pimpinan Partai Komunis. Dalam Undang Undang Dasar Negara dinyatakan bahwa Tiongkok menjunjung tinggi empat prinsip dasar, yaitu pertama menempuh jalan sosialis, kedua melaksanakan diktatur demokrasi rakyat, ketiga dibawah pimpinan Partai Komunis Tiongkok, dan keempat dengan ideologi pembimbing Marxisme-Leninisme, Fikiran Mao zedong, Teori Deng Xiaoping, Fikiran Penting Tiga Mewakili serta Pandangan Ilmiah Tentang Perkembangan. Dengan ideologi pembimbing inilah dilakukan pembangunan sosialisme berkepribadian Tiongkok.

Teori Deng Xiaoping adalah pengembangan Marxisme berdasarkan pengalaman praktek sosialisme di Tiongkok. Sementara golongan yang sinis, memvulgerkan teori Deng Xiaoping dengan ungkapan “tak pandang kucing hitam atau kucing putih, asal menangkap tikus adalah kucing yang baik”, “menjadi kaya itu adalah mulia”. Sesungguhnya, teori Deng Xiaoping meliputi seperangkat gagasan penting dalam membimbing pembangunan sosialisme di Tiongkok. Adalah keliru orang-orang yang menyatakan Deng Xiaoping itu pragmatis. Pandangan dunianya adalah materialisme dialektis dan historis. Dengan tangguh dan gigih dia mengajarkan keharusan mencengkam ”bebaskan fikiran”, “cari kebenaran dari kenyataan”. “Cari kebenaran dari kenyataan” adalah inti dari materialisme dialektis. Dalam teori Deng Xiaoping, terdapat pemahaman bahwa Tiongkok sekarang berada dalam tahap pertama sosialisme, bahwa hakekat dan tugas utama sosialisme, adalah membebaskan dan mengembangkan tenaga produktif, setapak demi setapak melenyapkan kemiskinan, bahwa miskin itu bukanlah sosialisme, bahwa rakyat Tiongkok yang besar jumlahnya itu tidak mungkin serentak menjadi kaya, oleh karena itu membolehkan sebagian jadi kaya duluan dengan cara yang sah dan membawa maju yang lainnya menyusul kaya; bahwa kecendrungan dunia sekarang adalah damai dan berkembang, dan untuk membebaskan Hongkong dan Macau serta penyatuan Taiwan liwat politik “satu negara dua sistim”. Justru di bawah pimpinan Deng Xiaoping lah berlangsung pembelaan serta penilaian atas Mao Zedong dan Fikiran Mao Zedong, dinyatakan bahwa Revolusi Besar Kebudayaan Proletar yang diprakarsai oleh Mao Zedong itu adalah salah secara teori dan tidak sesuai dengan kenyataan kongkrit Tiongkok hingga menimbulkan kemunduran dalam pembangunan sosialisme di Tiongkok. Maka semboyan “perjuangan klas sebagai poros” dalam Revolusi Besar Kebudayaan Proletar diganti dengan “pembangunan ekonomi sebagai tugas utama”, dilakukan reform dan dijalankan politik terbuka terhadap dunia luar.

Pengembangan Marxisme di Tiongkok tidak berhenti pada Teori Deng Xiaoping. Kongres ke-XVI dan keXVII Partai Komunis Tiongkok menampilkan rumusan-rumusan baru dalam ideologi pembimbingnya. Yaitu dengan Fikiran Penting Tiga Mewakili, yang berarti Partai haruslah mewakili tenaga peroduktif yang maju, mewakili orientasi kebudayaan nasional yang maju, dan mewakili kepentingan rakyat terbanyak. Kemudian disusul lagi dengan ideologi pembimbing Pandangan Ilmiah Tentang Perkembangan serta menempatkan rakyat sebagai yang utama, gagasan membangun masyarakat yang cukup sejahtera dan harmonis. Dalam politik luarnegeri juga diajukan gagasan membela perdamaian dan membangun dunia yang harmonis. Pengalaman membangun sosialisme memperkaya teori yang sudah ada. Dengan demikian Marxisme terus menerus berkembang maju.

Bagi Indonesia, membangun sosialisme belumlah menjadi acara dewasa ini. Jangankan membangun sosialisme, berbicara saja tentang sosialisme sudah dilarang selama hampir sepertiga abad oleh rezim orba. Oleh karena itu generasi muda yang lahir atau dibesarkan dibawah kekuasaan rezim orba adalah dibutakan mengenai masalah sosialisme. Dengan timbulnya krisis moneter dunia kapitalis, terbukalah mata orang banyak bahwa kapitalisme bukanlah satu-satunya sistim ekonomi yang ada. Disamping kapitalisme, ada sistim ekonomi lainnya, yaitu sosialisme. Walaupun kini ada sejumlah negeri di dunia yang menjalankan sistim sosialis seperti Tiongkok, Vietnam, Kuba, Republik Rakyat Demokrasi Korea, diatas segala-galanya kita tidak boleh menjiplak apa yang terjadi di negeri lain.

Sesungguhnya, dalam sejarah modern Indonesia, masalah sosialisme bukanlah soal yang baru. Boleh dikatakan, semua tokoh pergerakan nasional gandrung akan dan mendambakan sosialisme. Mulai dari Pak Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, Darsono, Semaun, Tan Malaka, Soetan Sjahrir, Mohammad Hatta, Amir Sjarifoeddin, Roeslan Abdoelgani semuanya becita-citakan sosialisme. Lebih-lebih lagi Bung Karno. Bahkan Soeharto pun ingin membangun sosialisme religieus di Indonesia.

Dengan dibantainya semua penganut cita-cita sosialisme di Indonesia oleh rezim orba di bawah Soeharto, maka generasi yang lahir dan dibesarkan di bawah kekuasaan rezim orba jadi buta akan sosialisme. Dengan Keputusan MPRS No XXV tahun 1967, ilmu sosialisme dinyatakn terlarang di Indonesia. Betapa tragisnya bangsa kita dengan pembodohan jahiliyah dibawah kekuasaan orba ini ! Karena sosialisme adalah ilmu, ia haruslah dipelajari sebagai ilmu. Dan ilmu tak dapat dibendung penyebarannya, karena akan selalu dicari oleh mereka yang membutuhkannya.

Indonesia tidak perlu, dan jangan sekali-kali menjiplak negeri lain. Dalam pemahaman tentang ajaran mengenai sosialisme, cukup banyak bisa dipelajari dari karya-karya Bung Karno. Mulai dari tulisan Nasionalisme Islamisme dan Marxisme, Memperingati 50 Tahun Wafatnya Karl Marx, Mencapai Indonesia Merdeka, Batu Ujian Sejarah dan banyak lainnya dalam buku Dibawah Bendera Revolusi. Dan pedato-pedato Bung Karno mulai dari Lahirnya Pancasila serta pedato-pedato di tahun enampuluhan sampai saat wafatnya beliau dalam tahanan rezim Suharto, sungguh kaya dengan semangat dan cita-cita sosialisme. Dan ajaran penting Bung Karno Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah, haruslah ditegakkan dalam fikiran generasi muda..

Sukses-sukses yang dicapai dalam pembangunan sosialisme di Tiongkok serta kemajuan pembangunan di Vietnam, Kuba dan Republik Rakyat Demokrasi Korea kian meyakinkan benarnya harapan pada sosialisme. Ditambah lagi dengan kemenangan rakyat Nepal di bawah pimpinan Partai Komunis Nepal (Maois) menggulingkan kekuasaan feodal otokratis, mendirikan Republik Demokratis Federal Nepal. Dan dengan dipelopori Venezuela di bawah pimpinan Presiden Chavez, gerakan mendambakan sosialisme kian berkobar di Amerika Latin. Bersama-sama dengan ketangguhan Vietnam Sosialis, Republik Rakyat Demokrasi Korea serta Kuba, gerakan sosialisme dunia kian memberi harapan.

Prestasi pelaksanaan tugas utama sosialisme, yaitu besar-besaran meningkatkan produksi material liwat pembebasan dan pengembangan tenaga produktif didemonstrasikan di Tiongkok dengan terbangunnya bendungan dan pembangkit tenaga listrik air raksasa terbesar di dunia di Tiga Ngarai Sungai Yangtse, pembangunan jalan kereta-api Xinjiang-Tibet yang tertinggi di dunia dari permukaan laut, pembangunan jembatan terpanjang di dunia menyeberangi Teluk Hangzhou, terbangunnya jaringan jalan-jalan raya umum di seluruh Tiongkok, berhasilnya Tiongkok dengan cekatan mengatasi musibah gempa dahsyat tingkat 8 skala richter menimpa provinsi Sichuan yang mengorbankan 70.000 penduduk, mampunya Tiongkok mengorbitkan pesawat ruang angkasa mengitari bulan, suksesnya penerbangan antariksa tiga orang dalam pesawat Shenzhou 7, suksesnya penyelenggaraan Olimpiade musim panas dan Olimpiade orang cacat 2008 di Beijing.

Tiongkok kini memang mempesona. Lebih indah dari mekarnya bunga Mei di puncak musim salju, karya-karya raksasa rakyat pekerja Tiongkok ini akan mengilhami seniman dan seniwati berkarya menggubah puisi, novel, simfoni, balet, lukisan, patung dan sendra-tari, menyenandungkan jelitanya hidup membangun sosialisme !!!

******

21-10-2008.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog