Bungarampai ini berisi tulisan-tulisan, baik yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku, mau pun yang belum atau tidak dibukukan.

15 Oktober 2009

KUMPULAN SAJAK

Nurdiana:

BERSAJAK KITA BERSAJAK.
Untuk Yanti, Bisai, Mawi,
Lusi dan Heri.

Puisi Yanti *) mengharu kalbu,
mengkaji Nusa tengah merana,
Bisai melambai**) ikut menyambut,
bersatuhati dengan sang miskin,
Mawie merintih bagai belibis***),
kampung terpandang kering kerontang,
penuh harapan Lusi optimis
musim semi pastilah datang !****)

Bersajak kita bersajak,
lawan penguasa berkulit badak,
memuja Nusa kampung halaman,
gigih melawan pembodohan,
bela budaya Nusantara,
khatulistiwa bukanlah gurun pasir,
betapa sengsara wanita jelita
dipasung berselubung karung.

Bersajak kita bersajak,
Bersajak kita berlawan,
Yanti, Bisai, Mawie dan Lusi,
tetap smangat bersama Heri,
gubah puisi menata kata,
kumandangkan Nusa Setengah Merdeka !!!****)


Keterangan:

*) Puisi Yanti Mirdayanti: Impian Awal Bulan Oktober.
**) Puisi Mawie: Pekik Belibis Itu Sayup Sayup Sampai.
***) Puisi Bisai: Kenyataan Sepanjang Tahun.
****) Komentar cekak-aos Lusi.
*****) Kumpulan Puisi Heri Latief: 50% Merdeka .






Yanti Mirdayanti:
IMPIAN AWAL BULAN OKTOBER
Septemberku telah berlalu.
Tak terasa Oktober mulai menyambutku
Aku terkantuk di rumah reyotku
Perutku kosong, bajuku rompeng
Ketika mataku terbuka
Aku telah bersayap lebar
Terbang di atas angkasa bumi Nusantara
Ketika kutatap Jawa
Tak kulihat lagi hijaunya tanah
Semua hutan di sana telah enyah
Sawah dan kolam tinggal setitik saja
Digantikan dengan semut manusia
Dan iringan mobil serta motor-motor kredit
Kuarahkan tatapanku ke Sumatera
Di sana hutan pun telah berubah
Menjadi kebun kelapa sawit yang seragam
Segera kukepakkan sayap ke arah Kalimantan
Hutan gambut pusat pernapasan Asia Tenggara
Oh, telah melelehkan air mataku
Merah pedih kedua mataku
Karena yang muncul dari hutan gambut ini
Hanya asap dan asap panas kekeringan
Kulanjutkan terbang ke Sulawesi
Kehijauan di sana pun makin menyempit
Lalu ke Irian Jaya nan jauh di sana
Oh, tanahnya telah bolong-bolong semua
Digali, dikeduk, dijarah, dijual
Tak lelah kukepak dan kukepak sayapku
Namun tiada lagi kehijauan yang menghibur mata
Bumi Nusantara tampak lelah tak berdaya
Lapar, berperut kosong
Seperti perutku ini
Seperti jutaan perut manusia
Yang hidup di bumi Nusantaraku
Aku enggan untuk turun
Sayapku tetap melebar
Kanan kiriku tampak sungai-sungai
Ada yang masih utuh alami
Namun banyak pula yang berbau
Terkontaminasi kapitalisme
Gunung-gunung masih ada yang angker
Namun banyak pula yang telah terkikis
Terdesak kebutuhan globalisasi
Terpaksa aku istirahat di atas awan
Nan kelabu hampir menjadi hujan
Namun terasa awan ini berbau asam
Rupanya telah pula terkontaminasi gas CO2
Dari mobil-mobil orang-orang kaya
Dari kendaraan reyot rakyat jelata
Dari pabrik-pabrik berasap hitam
Terpaksa kutinggalkan awan asam itu
Yang mulai mencair
Mengirimkan airnya yang bertoxic
Ke bumi Nusantara, tanah agraria
Kemana lagi kuharus mencari perlindungan
Di atas dan di bawah tanah tumpah darahku
Tiada lagi tempat yang aman
Yang ada hanya desakan kebutuhan
Dan rintihan kekeringan serta kelaparan
Tak mampu lagi kumembuka sayap
Turun kembali ke tempatku semula
Rumah reyot berisi harapan duka
Lebih baik kuhidup dalam impian saja
Karena kenyataan yang ada pahit semua

(Yanti, Bonn, Okt. 2008)


BISAI

KENYATAAN SEPANJANG TAHUN

Aku berangkat dari sebuah gedung
Jauh dari reot dan bahkan super moderen
Pesawatku sudah bukan Boeing 747
Tapi sudah Air bus A 380
Perutku selalu kenyang
Semua pakaianku bermerek mahal
Koperku penuh oleh-oleh
Pesawat tumpanganku sedikit oleng ke kanan
Dari jendela bisnisklas kulihat kemiskinan rakyatku
Bahkan di luar penglihatan juga tampak jelas
Aku merasa aku cukup baik dan bahkan sangat baik
Bisa menyatukan diri dengan kemiskinan
Meski itu bukan milikku sendiri
Tentu ada beda antara bisnisklas dan kelas kambing
Tapi tolong catat
Aku berada di samping kalian.

BISAI.
Hofdddorp, 5102008


MAWIE ANANTA JONIE:

PEKIK BELIBIS ITU SAYUP SAYUP SAMPAI

Hampir setiap tahun pekik belibis itu sayup sayup sampai,
bila musim gugur tiba dan musim dingin dimulai.

Terbang dari Utara ke Selatan lewat bubungan atap rumah,
bulan terang aku menjolok puisi dengan mata panah.

Di rawa rimba kampung halaman telaga sudah mengering,
gelombang kehidupan dan kematian semakin nyaring.

Ribuan puisi ribuan tuntutan telah menuding wajah penguasa,
tapi belum cukup belum mengubah apa apa.

Bersatulah kita yang dapat dipersatukan,
menyerbu mengalahkan kemiskinan dan kelaparan.

Amsterdam, 05/10/2008


Lusi:

Musim semi
Pastilah datang!


*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog